Mata rantai berikutnya adalah produk Indonesia berkelebihan stok di dalam negeri. Kelebihan stok berdampak luas ke mata rantai produksi, distribusi dan konsumsi. Over stok dan tidak laku, tentu perusahaan menjadi merugi.
Dampak kerugian adalah stop penggunaan sumber daya ekonomi. Mesin ditidurkan; bahan baku ditidurkan. Tenaga kerja ditidurkan. Menidurkan tenaga kerja artinya berkurangnya pendapatan. Pendapatan yang berkurang artinya berkurangnya daya beli. Daya beli yang rendah menunjukkan rendahnya kesejahteraan.
Menidurkan tenaga kerja dan bahan baku tidak saja terjadi pada sektor industri; ini akan berlanjut ke sektor perusahaan terutama yang bergerak dalam produksi sektor primer dan ekstraktif. Dengan demikian, semua mata rantai yang membentuk produk akhir akan ramai-ramai tidur atau ditidurkan. Pertanyaannya, apa yang mesti dilakukan oleh Indonesia?
Program Hilirisasi
Menurut penulis, Program Hilirisasi produk primer dan ekstraktif (terutama non migas) adalah salah satu solusi kemandirian ekonomi Indonesia. Selama ini ekonomi Indonesia ibarat ekonomi balon. Kembung di luar tetapi isinya kosong, hanya angin, yang bila pecah balonnya maka tidak ada isinya, anginnya menguap ke mana-mana dan tidak ada bekasnya.
Selama ini kita bangga sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi tidak memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat. Kita bangga dengan menjual kekayaan negeri ini dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi dengan harga yang murah; dan kebanggaan kita adalah produk kita laku terjual walau nilai tambahnya sedkikit; sementara nilai tambah sektor hilirisasi berlipat-lipat ganda.





