Moment perang tarif ini jangan disesali. Sebaiknya Indonesia mengambil hikmahnya; ketergantungan Indonesia terlalu tinggi dengan luar negeri termasuk AS. Jika ekonomi kita kuat, industri kita kuat, bukan saja AS tetapi hampir semua negara akan memperhitungkan posisi Indonesia.
Mengapa? Karena Indonesia adalah penghasil tima nomor dua di dunia, penghasil beras, kakao, nikel dan karet nomor tiga di dunia. Penghasil kopi dan bauksit nomor empat di dunia. Penghasil kacang-kacangan nomor lima di dunia; penghasil teh, produk pertanian, tembaga dan batubara nomor enam di dunia; penghasil emas nomor tujuh di dunia; penghasil buah, gas alam dan panas bumi nomor 10 di dunia.
Sayangnya, produk Indonesia hanya memiliki keunggulan alamiah dan komparatif, belum disertai dengan keunggulan kompetitif. Jika program hilirisasi dapat dilakukan untuk semua produk unggulan, maka Indonesia tidak saja kaya sumber daya alammya tetapi juga rakyatnya kaya. Rakyatnya sejahtera. Indonesia tidak saja menjadi negara penghasil sumber daya alam (SDA), tetapi juga negara industri yang fondasinya kuat, yaitu penghasil bahan baku utama, kaya SDA.
Menurut penulis, inilah tujuan Indonesia Emas 2045. Tanpa sektor industri yang kuat, tanpa fondasi ekonomi yang kuat, tanpa nilai tambah produk unggulan yang tinggi, Indonesia emas bisa saja berubah menjadi Indonesia cemas. Hasilnya? #KaburAjaDulu.
Setiap masalah ada solusinya. Setiap tantangan ada opportunity-nya. Kesempatan Indonesia menerapkan program hilirisasi produk unggulannya. Produk unggul akan melahirkan perusahaan unggul. Perusahaan unggul akan melahirkan industri unggul. Industri unggul akan melahirkan negara unggul (Langoday, T.O., Ekonomi Pembangunan: Membangun Negeri Unggul & Berperadaban, 2024).*
- Penulis, Dosen Global Economic Institute STIE OEmathonis Kupang





