Kisah getir ini tentu jadi pelajaran berarti bagi Mai Cenggo. Perlu sungguh berhati-hati dengan kondisi psikologis setiap pengunjung. Ada pengunjung yang damai dan sejuk di hati, ada yang ceriah, tetapi ada pula yang bisa cepat terbakar emosi hatinya. Tetapi intinya, Mai Cenggo mesti sopan dan selalu santun demi apapun variasi kondisi psikologis setiap pengunjung.
Salut buat bagi Mai Cenggo yang walau ‘cuma didorong muka ataukah ditampar beberapa kali’ tampak tetap tenang. Tak bereaksi kasar (terlihat di rekaman CCTV). Mungkinkah ini karena Mai Cenggo telah sadar bahwa telah berlaku ‘tidak beradab atau biadab’ terhadap pengunjung? Bisa dibayangkan andaikan dari pihak Mai Cenggo ada pula reaksi fisik? Bukankah bisa berakibat lebih fatal?
Tetapi, seandainya memang si pejabat itu ‘nyata-nyata telah lakukan tamparan karena sikap tidak sopan Mai Cenggo,’ tentu ada hal yang tetap jadi pelajaran pula. Sebenarnya, itu adalah kesempatan indah bagi pejabat wakil rakyat di Senayan itu untuk mendidik dengan lembut rakyat yang diwakilinya ‘yang lagi cari makan.’ Ringkasnya seandainya ada ‘bicara dengan tenang.’
Bila Mai Cenggo bersalah, ‘tegurlah di bawah empat mata untuk mendapatkan kembali citra Mai Cenggo sebagai restoran yang punya nama.’ Ketenangan hati dan kesabaran memang sebuah ‘harga mahal yang mesti dipertaruhkan.’
Mungkin terlalu biblistik untuk mengatakan “meskipun berwujud orang besar, pejabat, orang penting, berpengaruh, punya kuasa, punya reputasi, berpangkat atau bergelar akademik, setiap orang terundang untuk ‘merendahkan diri dan menjadi sama dengan saudara-saudari kita yang lain” (cf surat Rasul Paulus, Filipi 2:5-8). Tentu di ujungnya ‘yang hina dina diangkatnya, sementara orang kaya disuruh pergi dengan tangan kosong….’






