Maka, saat fajar 2026 mulai menyingsing di cakrawala, aktivitas menjaga api kebenaran adalah panggilan luhur bagi setiap jiwa dari mereka yang menggenggam pena di menara gading akademis, hingga jemari legam petani dan nelayan yang mengeja kejujuran dari alam. Di hadapan sejarah, kita ditantang untuk menjahit kembali robekan antara lisan dan perbuatan, memastikan bahwa setiap kata yang terucap adalah gema dari langkah kaki yang nyata, dan setiap tindakan adalah manifestasi dari janji yang suci. Mari kita jadikan ambang 2025 ini sebagai altar komitmen untuk meluruhkan kepalsuan. Sebab, hanya di atas fondasi kebenaran yang presisi, Indonesia yang adil dan beradab tidak lagi menjadi bait puisi, melainkan rumah bagi kemanusiaan yang abadi.*
* Penulis staf pengajar Stipar Ende





