Di titik lain, Pilpres yang gagal ini sepantasnya direnung dan disikapi penuh serius. Sebab publik bisa saja dijerat dalam logika kacangan nan simplisistik: “Yang kalah itu biasanya bilangnya curang, curang, curang… Untuk kami yang menang menyambut semuanya hanya dalam senyum. Sudahlah, terima sajalah kekalahan itu dan segera jabat tangan. Akui saja kemenangan pihak sebelah….”
Sepantasnya, tanah air tak boleh dihibur oleh kata-kata belagu, “Kiranya Pilpres kali berikutnya akan menjadi lebih baik dari yang dilaksanakan pada tahun ini.” Yang diproyeksikan bakal mesti menjadi lebih baik, sepatutnya bertolak dari evaluasi integral-holistik Pilpres 2024 ini pada titik jelas dan suramnya, terang dan samarnya, lurus dan bercabang kelok-keloknya… Tak mudah memang!
Namun, seandainya tak demikian? Pilpres atau segala jenis ajang pesta demokrasi toh akan disiasati dalam strategi penuh curang. Tak perlu pada pertarungan gagasan, visi, serta cita-cita kepemimpinan Indonesia ke depan. Cukuplah pada siasati semuanya dengan geliat kecurangi. Curang pada mekanisme dan aturan. Dan terutama curangi apa yang menjadi ‘potensi subur kemenangan paket lawan atau tandingan.’
Untuk ‘menang’ memang harus bertindak curang. Dan terlebih pula harus bertindak sejadinya untuk amankan kecurangan itu dengan segala cara hingga pada puncak kemenangan itu. Inikah yang bakal jadi warisan pesta demokrasi untuk perhelatan yang sama di episode berikutnya?
Apapun terjadi, semuanya telah terlewati. Nada-nada suara Pilpres 2024 antara ‘gagal dan berhasil’ masih sengit di pentas ‘baku ambil kata’ dan saling bertabrakan. Itu yang terjadi di tayangan-tayangan publik serta sekian banyak medsos yang deru menggebu. Mungkin kah ini semua karena Indonesia masih terlalu lemah lembut sebatas gertak sambal ‘hak angket?’







