Hansi Flick tentu punya maksud di balik ‘tak boleh bicaranya para pemain Jerman kepada pers’ ante factum contra Spanyol itu. Sederhana saja sebenarnya. Agar para pemain itu lebih konsen dan tak terganggu jelang laga teramat penting itu. Mungkinkah ini yang disebut strategi psikologis? Dan lihatlah, hanya Flick seorang diri tanpa pemain dalam konferensi pers.
Mungkin saja, Hansi Flick cemas. Takutnya, para pemainnya terlanjur omong besar dan omong tinggi semua di awal. Tetapi nyatanya di lapangan akan konyol jadinya. Oh iya, maaf untuk para pemuja Messi dan pendukung Barcelona, dari Seminari Mataloko (1980 – 1986) seperti Eja Abraham Runga dkk.
Saya jadinya ingat lagi Messi saat berjaya di Nou Camp. Di leg pertama semifinal Liga Champion 2019, selesai menjungkal Liverpool 3 – 0, Messi punya komen meyakinkan. Janji pulangkan Piala Champion ke kou Camp. Sayangnya, di leg Kedua, el Barca terhempas 0 – 4 di Anfield. Itu yang tak boleh terjadi di tim Jerman di fase penyisihan Group, Tapi, mari kita pulang dan bergabung di Tanah Air….
Jelang laga di Pilpres 2024 ini, sepatutnya, alarm Hansi Flick dari area sepakbola Piala Dunia Qatar, dimodifikasi pula. Maksudnya sederhana saja. Kata teman saya, “Agar jangan ada bacapres yang sekedar omong-omong besar dan tinggi, penuh pikat lagi, ‘wora’ ituka di hadapan wartawan dan pada safari publik; padahalnya itu kenyataannya adalah rangkaian gerbong inflasi kata. Atau juga omong-omong sekarang tentang keberhasilan masa lalu yang penuh gagalnya.”







