Tak Ada Playing Victim di Bait Allah

Kons beo5
Pater Kons Beo, SVD

Si Farisi itu memang ada di pusaran glorifikasi diri yang tersamar namun nyata! Ia memang datang di rumah ibadat. Tetapi tidak untuk berdoa. Tidak! Itu kata para ahli tafsir Kitab Suci. Ia datang ke Bait Allah untuk tempatkan dirinya sendiri sebagai protagista. Iya, sebagai tokoh utama dari segala yang terbaik! Koq bisa, ya? Datang ke Rumah Tuhan untuk sentralkan diri sendiri? Caranya? Gampang, Bro!

Yang dibangun awal mula oleh di Farisi adalah framing diri penuh kemuliaan. Perilaku dan cara hidup terhormat dan santun patut dinarasikan. Mesti ada rasa percaya diri penuh pasti bahwa ‘aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina….’ (Luk 18:11). Luar biasa. Tak ada soal serius di sini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tetapi, soal tak dapat disamar selamanya. Godaan berat mendera si Farisi oleh kehadiran si pemungut cukai. Banyak tafsiran campur aduk muncul di kepala? Tak suka dan sekian terusik kah si Farisi sebagai orang ‘saleh’ melihat seorang pemungut cukai, orang berdosa, yang ‘sungguh tidak tahu malu dan tak tahu diri nekat hadir di rumah suci?’

Ataukah, justru kehadiran si pendosa, pemungut cukai dalam Bait Allah itu dimanfaatkan beneran untuk ‘lebih mempertampakkan kesalehan si Farisi itu?’  Maksudnya, agar Tuhan ‘bisa dengan mudah buat perbandingan sikap dan perilaku hidup antara keduanya.’ Biarkan saja Tuhan yang menilai dan segera putuskan! Jelas, si pemungut kalah telak dalam soal perilaku hidup dan derajat kesalehan.

Sayangnya, si Farisi itu lepas kendali dan tak rem diri dalam ‘menilai dan menghakimi.’ Lihatlah! Apa yang jadi hak, wewenang dan kuasa Tuhan, ia copot begitu saja. Dengan enteng penuh yakin, yang tersuara dalam hati, “…bukan juga seperti pemungut cukai ini” (Luk 18:12).

Pos terkait