Wah, soal sudah jadi lebih menggumpal. Si Farisi datang ‘dengan animo puja-puji akan diri sendiri, rasa diri sendiri saleh, copot wewenang Tuhan yang berhak mengadili dan menghakimi, dan lagi sudah zalimi orang lain.’ Itulah peluru-peluru penilaian terhadap si Farisi. Datang ke Bait Allah bukannya untuk berdoa, tapi hanya untuk ‘pasang dan jaim.’ Tetapi, adakah yang ‘dapat direnung indah dari sikapnya si Farisi?’
Teringat lagi bincang-bincang dengan seorang teman pastor di satu ristorante cinese sambil nikmati sekadar riso cantonese. Katanya, “Bro, si Farisi itu, biar begitu-begitu, ia tetap konsisten dengan sikap intolerannya terhadap kaum kafir (baca: pemungut cukai dan semua kelompok pendosa). Dia itu jujur dengan sikap dan bawaan mentalnya. Ia tak mau poles-poles dengan banyak modus dan triknya. Dengan intensi agar ia tergelar oleh surga dan bumi sebagai ‘bapa toleransi…Tidak!”
Si Farisi, ingin tetap setia pada resonansi ‘politik identitasnya.’ Sebab, ia memang telah plintirkan citra Bait Allah, Rumah Tuhan demi pencitraan dirinya sendiri. Tetapi, patut diingat, ia mesti ‘dipuji’ pula. Sebab, ia, si Farisi itu, tidak mau berakrobat sana-sini agar secara ‘mendadak diakui dan diterima telah jadi orang baik dan benar, suci lahir dan di dalam batin, di mata publik dan di dalam tatapan biji mata Tuhan.
Dan lagi, kata teman saya itu, “Bro, ingat pula si pemungut cukai itu. Bukankah ia datang ke Bait Allah, sungguh sebagai tokoh pemeran dalam jalan hidupnya sendiri yang penuh durjana? Ia tak mau berhalu sendu pilu dan baperan sana-sini, apalagi sampai merengek-rengek pada Tuhan bahwa ia telah jadi korban kezaliman di berbagai titik hidup di masyarakat. Tidak. Ia hanya merindu Kasih dan pengampunan Tuhan yang tak terbatas.







