Tempayan-Tempayan

kons beo7

Kawan ku….

Kau pasti paham. Pesta bukan sebatas soal bagaimana kau mempersiapkan dan kau rayakan pesta itu. Yang terpenting adalah mulailah dari diri kita sendiri sebagai ‘Tuan pesta di arena pesta kehidupan ini.’ Yang sepantasnya miliki hati yang terbuka, ceriah, solider, punya sikap penuh persahabatan, punya rasa kekeluargaan yang wajar dengan sesama dan dengan anggota keluarga (besar) mu sendiri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kawan ku….

Enam tempayan yang disediakan oleh tuan pesta untuk pembasuhan kaki seturut adat orang Yahudi, dengan volume air 720 liter seluruhnya cukuplah untuk menunjukkan bahwa betapa tuan pesta itu punya hati yang terbuka. Tuhan ‘tinggal nantinya adakan mujizat dari isi tempayan pembasuhan kaki menjadi tempayan anggur terbaik penuh kenikmatan untuk dikecap!’

Kawan ku….

Di keseharian, atau dalam kenyataan, katakan saja misalnya, sebuah pesta nikah sudah dipersiapkan. Hal-hal praktis sudah pada titik OK. Tinggal menanti hari H. Sayangnya, di Hari H itu hanya ada ‘sebuah pesta besar, berkelimpahan namun sekian sunyi dan sepi tamu. Tak banyak yang hadir. Ini semua karena si tuan pesta, dalam kesehariannya, bukanlah pribadi yang ‘rayakan hidupnya sebagai pesta yang ramah dalam relasinya dengan sesama.’

Kawan ku…

‘Kuyakin kita berdua sungguh berjuang untuk jadi tuan pesta yang baik dalam pesta raya dan peziarahan kehidupan ini.’

Kawan ku…

Ku ingin mengandai dan merenung lanjut sekali lagi:

  • Bukankah kepala kita ini adalah tempayan itu? Maka isilah dengan air sebagai isi dan cara berpikir yang sehat tanpa sekat terhadap sesama.
  • Bukankah mulut kita juga adalah tempayan itu? Maka isilah dengan air kesejukan kata-kata. Yang tak menekan dan tak menghina sesama. Sebaliknya isilah tempayan mulut kita dengan kata-kata dan suara pengharapan serta sukacita bagi sesama. Dengan kata-kata pengampunan dan perdamaian…
  • Bukankah bola mata kita adalah tempayan itu? Makan isilah semuanya dengan ‘air mata penuh solider dengan sesama. Dalam suka dan dalam duka.’ Dalam melihat sesama dengan kenyataan hidup yang mereka alami. Memandang sesama dengan mata belaskasih pun mesti jadi perjuangan kita.
  • Bukankah hati kita adalah tempayan air itu? Maka isilah tempayan hati kita dengan kasih dan kepedulian, dengan sikap menerima tanpa penolakan dan pengasingan, dengan kerendahan hati tanpa keangkuhan, dengan kelemahlembutan tanpa  menekan dan menghukum segarangnya…..

Kawan ku….

Pos terkait