Nutrisi Spiritual
Tetapi, bagi Gereja yang merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, citra pemaknaan apakah yang sepantasnya direnungkan?
Pertama, Tubuh dan Darah adalah satu proklamasi keintiman relasi antara murid-murid Tuhan, Gereja (kita semua). Di Malam Perjamuan Akhir, Yesus bersabda kepada Para Murid: ‘Ambillah dan makanlah! Inilah TUBUH-KU; Ambillah dan minumlah! Inilah Darah…’
Gereja tak pernah bisa dipikirkan tanpa kebersatuannya dengan Kristus, sebagai Kepala. Dari Tubuh dan Kristus, Gereja memperoleh nutrisi spiritual yang mempersubur gairah iman-harapan dan kasih. Karena kebersatuan itu Gereja menjadi hidup. Dalam lukisan Pokok Anggur, Yesus kiaskan DiriNya sebagai POKOK dan kita adalah ranting-rantingnya. Dan tidakkah Ia tegaskan “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5)?
Dalam perayaan ekaristi, yang adalah puncak kehidupan Gereja, kita alami kekuatan kehadiran Tuhan dalam Sabda dan Sakramennya. Ekaristi hadirkan (kembali) keagungan dan kemuliaan Tubuh dan Darah Tuhan yang dirayakan.
Tetapi sepantasnya mari kita renungkan animo spiritual kita untuk “pergi misa.” Litania alasan sudah dikemas untuk enggan ‘ke Gereja hari Minggu.’ Sibuk tak ada waktu? Kurang PD tampil sebab tak ada ‘sepatu, baju dan celana gereja?’ Jenuh dengan isi dan cara bawakan kotbah yang kurang streg? Bosan dengan pengumuman yang bertele-tele? Punya persoalan pribadi dengan pastor dan seterusnya, atau masih bergulat dengan soal-soal hidup sendiri yang membingungkan?
Apa pun alasannya, Yesus, Tuhan, Kepala semua kita, tetap setia menanti untuk membaharui dan meneguhkan kembali jalan hidup setiap kita. Kita hadir di hadapan Tuhan dalam ekaristi tidak karena kita adalah kaum berdosa, tidak pula karena kita adalah orang-orang teramat saleh. Tetapi bahwa Gereja (kita) yakin Kristus Tuhan senantiasa menanti kita dalam kekuatan KasihNya yang mengagumkan.





