Kedua, saat terjadi dari kuda tunggangan Saulus menangkap suara yang berseru, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4). Dan Saulus pun pada titiknya menjadi sadar bahwa “Yang teraniaya adalah Yesus yang hadir dalam diri orang-orang yang dianiayanya.”
Ingatlah pula! Bukankah kepada Thomas, Rasul, Tuhan bertitah, “Tarulah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu dan cucukanlah ke dalam lambungKu!” (Yoh 20:17)?
Terdapat sekian banyak ‘Yesus dalam diri saudara-saudaraNya’ yang tak tentu nasibnya. Perang serta aneka kekerasan adalah tragedi Golgota yang tak pernah berakhir. Tubuh-tubuh kurus tak berdaya terlihat di mana-mana. Kelaparan mendera untuk dihilangkan dengan apa yang masih tersisa di tong-tong sampah.
‘Tubuh dan Darah Tuhan’ tetap lunglai tak berdaya akibat sekian banyak praktek ketidakadilan dan tindak koruptif. Sebab katanya, ‘yang gemuk semakin tambun; yang kering semakin kerontang hingga tulang terbilang.’ Tidakkah pula ‘Tubuh Tuhan’ semakin banyak terbujur kaku dalam antrean ‘peti-peti mati yang dikirim dari tanah perantauan?’ Mereka itulah pahlawan kehidupan bagi keluarga mereka yang sederhana dan tak berdaya. Namun mereka sepertinya dinasibkan ‘salah diurus’ dan lalu diperlakukan semena-mena oleh yang (merasa) berkuasa.
‘Tubuh dan Darah Tuhan’ tentu tidak saja merupakan ‘perayaan adorasi ke altar dengan asap dupa harum semerbak mewangi, dengan rangkaian indah bunga-bunga, serta lilin bercahaya.’ Tetapi Tubuh dan Darah Tuhan juga menarik (paksa) kita keluar dari segala ‘kelebihan dan ketersedikitan kita’ akan ‘Tubuh dan Darah Tuhan’ yang “ketika Aku lapar; ketika Aku haus; ketika Aku seorang asing; ketika Aku telanjang; ketika Aku sakit; ketika aku dalam penjara…” (cf Mat 25:31-46, Penghakiman Terakhir).





