Tubuh Dan Darah Kristus dan Ironia Sambut Baru

Kons beo3 1

Ketiga, dalam Tubuh dan Darah Tuhan yang dikontemplasikan, deretan nilai terpancar dalam terang yang sungguh berkuasa dan mengagumkan. Dalam persatuan dengan Tubuh dan DarahNya nan mulia, Yesus mendidik dan mengajak kita untuk berani bertaruh hingga ke puncak Golgota.

Di via dolorosa itu terbentanglah tapak-tapak: kerendahan hati, kesabaran, pantang mundur, pengorbanan, tak membalas, kepasrahan, keberanian hati, serta kesetiaan hingga akhirnya. Maka bersatu dengan Tuhan dalam Tubuh dan DarahNya adalah satu dinamika spritual internalisasi keagungan nilai-nilai ini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 Ironia Sambut Baru?

Teringat lagi kisah-kisah Komuni Pertama (Sambut Baru) yang sudah dikaroseri sekian aduhai. Musik menggelegar dengan speaker bertingkat di segala sudut tenda pesta. Hewan-hewan korban yang tak sedikit jumlahnya. Tampilan si ‘anak sambut baru’ bak ratu atau raja. Segala pernak-pernik sana-sini yang bukan sedikit. Semuanya demi merayakan pesta menerima ‘Tubuh dan Darah Tuhan’ yang berbilur, ‘jelek dan tak indah.’ Penuh derita.

Ada lagi kisah sambut baru yang jadi arena tebalkan lagi  ‘rasa hati tidak baku enak’ dalam keluarga (besar). Sebabnya, dia ini dan dia itu telah ‘dipakumati untuk tidak boleh diundang memang.’

Ini belum lagi, katanya, masih harus bicara adat yang belum beres itu ini itu. Jadinya satu pesta sambut baru yang rumit dan ‘rasanya tidak enak punya.’ Tetapi syukurlah, momentum Tubuh dan Darah Tuhan, yang sering dirayakan pula dengan perayaan “Komuni Pertama” bisa jadi ajang untuk berkumpul bersama dengan siapa pun dalam suasana sukacita penuh kasih.

Pos terkait