Ketiga, marilah kita sembah! Apakah yang kita cari dan sembah di ziarah hidup ini? Kuasa? Pangkat dan jabatan atau kedudukan? Harta kekayaan? Prestasi dan nama besar? Kehormatan dan berbagai penghargaan? Berbagai kepentingan? Dan apakah yang kita andalkan dalam hidup? Pedang dan kekerasan? Perang dan pertikaian?
Di saat para Majus menyembah Sang bayi di palungan, di saat itu pula mereka menjadi manusia kosong. Manusia yang tiada lagi mengandalkan apapun akibat satu perjumpaan mistik, ilahi serentak insani! Tetapi pada saatnya mereka berubah menjadi pribadi yang kaya. Tak cuma gembala Betlehem yang dipenuhi dengan kekayaaan sukacita, tetapi para Majus pun kelimpahan dalam sukacita setelah perjumpaan agung itu. Mari kita bayangkan bahwa kembalinya para Majus itu dengan mengambil jalan lain (cf Mat 2:12), sejatinya tak sekedar sebuah jalan fisik yang lain! Tetapi bahwa segala jalan hidup mereka sungguh berubah akibat telah menemui Anak itu! Mereka kini kembali pulang dengan tidak mengambil lagi jalan lama-jalan Herodes. Jalan yang penuh dengan kekerasan beraura kegelapan.
Sembah sujud akan yang salah pun dengan orientasi yang salah akan menjebak dunia masuk ke dalam cara-cara dan jalan-jalan Herodes. Menyembah Yesus, sang Bayi Kudus, akan menjadikan hidup kita bagai pohon subur yang berbuah damai, kebaikan, sukacita serta saling mengasihi. Itulah hidup yang dicahayai oleh BintangNya di Timur.
Keempat, marilah kita mempersembahkan hadiah! Yang dipersembahkan oleh para Majus adalah emas, kemenyan dan mur. Itulah yang menjadi simbol dari segala yang dimiliki. Yang dimiliki itu akan lebih berarti ketika dipersembahkan kepada sang Bayi. Mempersembahkan adalah warna hati penuh kebebasan. Tak mati-matian bertahan pada yang dimiliki, akan yang didapati dan diusahakan. Citra seorang Kristen, pengikut Kristus terbaca dalam semangat memberi. Dalam kegembiraan melepaskan, atau mempersembahkan.







