‘Di depan sebuah kandang natal, seorang pemuda berdiri menatap bayi Yesus. Sang Bayi ceriah berseri. Namun, saat pemuda itu itu letakkan hadiah, dan ingin kembali, bayi Yesus tampak serius. Tak ada lagi senyum. Sang pemuda lantas berpikir: mungkin bayi Yesus inginkan hadiah yang lebih banyak lagi. Setelah letakkan lagi tambahan hadiah, dan hendak pergi, bayi Yesus tampak ‘kecut di wajah’. Tiada sukacita sedikitpun! Saat pemuda itu bertahan depan palungan, bayi Yesus kembali berceriah. Maka tahulah pemuda itu bahwa Yesus, sang bayi kudus itu lebih membutuhkan lebih banyak kehadirannya ketimbang rupa-rupa hadiah yang ia berikan.’ Memang tepatlah kesadaran ini: Janganlah kita merayakan natal tanpa berada bersama Dia yang dilahirkan.
Dalam cahaya bintangNya di Timur, marilah kita melihat, bergerak, menyembah, serta mempersembahkan hadiah bagi sang Bayi Yesus. Dan persembahan yang paling berkenaan bagiNya adalah citra diri kita sendiri ke dalam hidup dan perutusanNya. Bukankah bagi Gereja semesta tetap bergema, “HidupNya adalah hidup kita; perutusanNya adalah perutusan kita”? Agar seluruh kehidupan dan perutusanNya semakin ditampakkan ke segala penjuru bumi. *
Collegio San Pietro-Roma
Jan 2021







