Ketika ‘Nafsu Kemurnian’ Menjerat

Kons beo5

“Semakin tinggi kita terbang, semakin kecil kita di mata orang-orang yang tidak bisa terbang”

(Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, 1844-1900)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Oleh P. Kons Beo, SVD

Saat Rusuh di dalam Batin

Dari hari-hari silam hingga saat kini, sepertinya tak ada yang berubah. Cemas, panik tak karuan jadi tamu tetap di dalam batin. Tampaknya telah terumus satu pikiran baku. Bernada sedikit runtut dan  kaku. Mesti diterima sebagai satu kepastian. Tesis-tesis bernada kepastian itu lalu diprasastikan. Ditoreh dengan ‘tinta-tinta sakral.’

Yang terjadi selanjutnya? Tangan yang ‘menulis’ mesti jadi tangan yang terulur pula. Siap diikat mati oleh semua yang ditulisnya. Terbelenggu oleh hasil pikirannya sendiri. Manusia jadi ‘mati langkah.’ Jauh dari udara kebebasan  yang sebenarnya sanggup membuatnya lebih kreatif dan spontan. Ironi memang.

Namun, sudahlah! Bisa diterima andai semuanya terpola dalam kerangka keadaban. Sebab semua yang tertulis itu bisa jadi kompas di sisi-sisi kehidupan. Terlalu sering kita tidak tertib bicara. Ekspresi berpikir terkadang sekian bebas yang teramat sembrono. Gejolak sikap hidup pun terkadang cenderung norak. Tak terukur.

Murni Milikku (Kami), Palsu Milikmu (Kalian)

Di titik ini, semuanya bisa dipahami. Tetapi, jadi repot sekiranya alam cemas mulai menyergap. Halusinasi liar tentang kemurnian mulai mendera. Semua jadi berubah. Yang semula jadi kompas penuntun hidup, segera berubah jadi ‘milikku yang murni.’ Yang harus dihayati sedetailnya dan serigoristik mungkin.

Gerak dan irama hidup mesti di jalan murni! Dan mulailah, apa semula tertulis sebagai titian menuju keberadaban, segera berubah peran. Semuanya ditakhtakan bagai ‘raja diraja yang berultimatum maut.’ Manusia rela jadi buta untuk ‘diperhamba dan diperalat.’

Pos terkait