Oleh P. Kons Beo, SVD
Lusail Iconic Stadium. Mohamed Al Owais. Saleh Al Shehri. Salem Al Dawsari. Itulah sebaris litania teramat pahit bagi Tim Tango, albiceleste, Argentina. Juara Amerika Latin, yang tak terkalahkan sejak 2019, hari kemarin itu, tersungkur! Rasa penuh pahit itu sebenarnya sudah berawal di menit ke 23, 27 dan 37. Sebiji gol dari Messi dan dua gol dari Martinez divonis offside. Andaikan tidak? Cerita pasti bukan seperti ini.
Al Shehri dan Al Dawsari sudah jadi pencipta kemenangan The Green Falcons, Arab Saudi. Gol-gol cantik berdua sudah buat tak berdaya Emiliano Martinez, el portero Argentina. Ia kalah cepat dari lajunya si kulit bundar.
Tetapi, bukankah mesti disepakati kalau-kalau Al Olwais, goal keeper Arab Saudi adalah pahlawan sesungguhnya dari kemenangan itu? Silahkan saja Argentina kuasai area pertandingan. Plus kehadirannya yang digadang-gandang bakal jadi sang juara. Nyatanya? Di area seputar mistar gawang Arab Saudi, Al Olwais selalu jadi mimpi buruk. Akhirnya?
Untuk pertandingan perdananya di Group C? Itu tadi, Argentina terkapar. Dunia penuh keheranan karenanya. Tetapi untuk Arab Saudi? Sanjungan setinggi langit buat sang Kapten Salman Al-Faraj dkk. Sungguh satu pertandingan penuh spirit peperangan. Sengit memang. Tak ada kata menyerah atau rasa diri ‘sudah memang’ sebelum pluit akhir dibunyikan.
Ada koment terdengar. Argentina tak garang dan menggigit untuk penyelesaian akhir. Mudah diblokir pertahanan lawan. Memang sang kapten, Messi disanjung saat mencetak gol di titik pinalti di menit ke 10. Ia bikin rekor. Satu-satunya (hingga 2022) jadi pemain Argentina yang bisa cetak gol dalam empat Piala Dunia berbeda.







