Oleh P. Kons Beo, SVD
Kini dari semuanya, hanya ada satu nada dasar. Itulah yang tengah dilebarpanjangkan. Hendak jadi satu orkestrasi musik permainan gemulai. Namun harus cantik dan penuh daya juang. Di situ, segalanya hanya terarah pada muara tunggal harapan. Kemenangan mesti diraih. Dan itu harus. Juara dan menggondol World Cup – Piala Dunia, memanglah jadi satu keharusan!
Messi dkk pasti lagi berpikir serius. Bagaimana harus hempaskan Mbappé di laga final? “Di Paris Saint-Germain bolehlah kita se-klub, Bro! Tapi soal bela tanah air? Tak ada pilihan lain! Kita punya gawang berlawanan.” Inilah momentum telak. Messi mesti buktikan pada dunia, pun pada si Mbappé itu: Who is the best in the PSG and even around the world?
Dan yang sama pun tentu ada di benak Mbappé. Bagaimana sekiranya dari hasil final yang segera berlangsung ini, jagat raya bakal akui Les Bleus penuh decak kagum. Sejarah baru mesti tercipta. Jadi negara pertama yang bisa pertahankan titre coupe du monde. Era Messi mesti dipastikan ditutup di laga final itu. Dan seorang raja baru mesti dimahkotai segera. Semuanya di Lusail Stadium di Minggu malam, 18 Desember 2022.
Di sudut lain? Mari menelisik aura sengit dukung-mendukung. Sentimen idolatrik sudah terbungkus dalam rasa patriotrik yang kental. Dan itu tak terhindarkan. Sungguh keterlaluan, sekiranya un argentino mesti dukung Les Bleus. Pun sebaliknya untuk un franҫais yang dukung tim Tango. Pengkhianatan terhadap negeri.
Dalam pada itu, dunia pun sudah terpecah-pecacah dalam dua blok fans. Walau pasti tetap ada yang memang ‘mati rasa’ dengan dunia si kulit bundar. Tapi jangan lupa! Yang ‘baingao bin buta knop’ dengan bola, tak berarti bebas murni dari pengaruh Piala Dunia. Setidaknya, sudah ada bandar taruhan di segala level. Di sudut-sudut terpencil pun ada.







