Om U, Rocky Gerung Waibalun

Namanya Markus Ubaama Tukan. Akrab dengan sapaan Om U. Lahir 26 April 1950. Genap  73 tahun hari ini. Sudah tua untuk usia harapan hidup orang Indonesia. Sudah dapat bonus 3 tahun menurut Kitab Suci orang Kristen.

Tetapi semangatnya masih segar. Elan vitalnya kuat sekali. Postur badannya menjelaskan itu. Masih tegak. Kuat jalan. Mata tidak kabur. Dan, jarang sakit.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kami satu desa. Sekarang kelurahan. Waibalun. Hari-hari Om U jaga kios kecil di depan rumahnya. Sebelum istrinya, Fince Betan, meninggal dunia beberapa tahun lalu, Om U dan istrinya barengan jaga kios di depan rumah. Tentu dari kios itulah mengalir pendapatan mereka. Cukup untuk hidup dengan tidak banyak tanggungan.

Jika ditarik dan diurai, kami masih  bersaudara. Masih keluarga. Apalagi istrinya. Dengan istrinya, Fince Betan, kami sepupu lapis dua.  Orang tua kami sepupu kandung.

Jujur, sebelumnya  saya tidak terlalu kenal dekat dengan Om U.  Boleh jadi karena terpaut usia yang jauh.  Apa pekerjaannya juga tidak saya tahu sebelumnya.

Hanya ketika berada di tingkat IV di Seminari  Tinggi St. Paulus Ledalero tahun 1991-1992, saya kaget melihatnya di Sekretariat STFK Ledalero.  Belakangan saya tahu Om U bekerja di Yayasan Persekolahan St. Paulus, yayasan yang membidangi lembaga pendidikan milik SVD di Provinsi (SVD) Ende. Di antaranya STFK (sekarang IFTK) Ledalero, STM (SMK) St. Yosep Larantuka, SMAK Syuradikara Ende, SMK Syuradikara  Ende.

Om U pindah dari Larantuka ke Ledalero.  Saya jadi semangat. Gembira sekali. Itu artinya malam-malam usai makan malam ada rumah sasaran untuk berbagi cerita.

Begitulah yang terjadi. Sangat sering usai makan malam, dengan beberapa teman kami berbagi cerita di rumah kontrakan Om U.  Kadang-kadang main kartu. Paing, tentu saja. Main untuk mencari hiburan. Bukan pasang doi. Maklum, frater berkaul tidak punya uang.

Saat saya berniat pamit dari bukit Ledalero, Om U dan istrinya jadi tempat bertanya. Minta pertimbangan.

Ketika akhirnya saya pamit dan meninggalkan Ledalero 1994, Om U dan istri masih di Ledalero. “Saya sepuluh tahun lebih di Ledalero,” kata Om U.

Om U punya kenangan tersendiri bekerja di sekolah calon pastor itu. “Waktu Fince (istrinya) meninggal, saya kaget mereka dari Ledalero datang dua pik up,” tutur Om U.

Tiap kali pulang Waibalun, kios Om U selalu jadi tempat singgah. Ngobrol banyak tema. Hal yang kuat menarik saya ngobrol dengan Om U adalah sikapnya. Kritis. Tegas. Berprinsip. Dan, omong apa adanya. A bilang A, tidak B.

Tak heran Om U dijuluki Rocky Gerung-nya Waibalun. Hehehee…..

Kata-kata dan pernyataannya kuat. Terbayang kalau Om U bergelut di dunia wartawan, dia cocok jadi editor.  Pilihan anglenya kuat. Diksinya meyakinkan.  “Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk dibutuhkan.” Pernyataan ini mengalir lancar dari mulutnya ketika kami ngobrol di kiosnya, Sabtu (15/4/2023) lalu.

Saya membatin, dari mana Om U pungut kata-kata ini dan merangkainya jadi pernyataan menarik? Dari mana Om U mengerti psikologi?

Om U sendiri yang menjawab rasa penasaran saya. “Saya biasa dengar kalau ada frater datang konsultasi dengan dosen. Saya dengar dengan baik apa-apa yang dikatakan dosen kalau ada frater ada kesulitan. Saya juga sering dengar dari jendela dosen-dosen mengajar  frater-frater,” tuturnya jujur.

Saya jadi paham. Tempat kerja, lingkungan kerja dan pergaulannya dengan para frater/mahasiswa Ledalero membuat isi otak Om  U padat.  Ilmunya bertambah. Pengetahuannya luas.

Ketika petang hari itu saya mohon restu lewo untuk maju sebagai caleg DPRD NTT di rumah adat Waibalun, Om U semangat mati punya. Apalagi tahu bahwa saya maju dari Partai Golkar. “Sudah benar maju dari Golkar. Orang macam kalian ini yang bisa bunyi,” katanya penuh semangat.

Di rumah adat Waibalun petang hingga malam itu, Om U juga hadir.  Dia tidak bertanya.  Cuma memberi penegasan.

“Kita ini rugi sekali kalau salah pilih. Pilih orang itu harus seperti dia ini.  Kemampuannya sama sekali tidak diragukan. Pengetahuannya banyak. Kita mesti pilih orang seperti dia ini. Orang seperti dia ini jangan kita sia-siakan,” kata Om U.  Pesannya tegas.  Nadanya terdengar imperatif.

Terima kasih Om U. Sudah  ikut memberi warna bagi demokrasi.  Pesanmu mungkin sederhana dan subyektif. Tetapi isinya menukik, dampaknya luas,  dan akibatnya  tidak kecil.

Selamat merayakan hari jadi Om U. *

Kupang, 26/4/’23

Tony Kleden

Pos terkait