Yubileum Kaum Muda, Antara Euforia dan Dahaga Kerohanian

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Oleh : Pater •Kons Beo, SVD

Hari-hari belakangan ini Roma diserbu ribuan kaum muda. Semua terkonek pada gempita Tahun Yubileum. Tergambar aura entusiasme di wajah. Yel-yel dan nyanyian dikumandangkan. Bendera kebangsaan yang variatif berkibaran mudah terpantau.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kemarin itu, Selasa, 29 Juli 2025, misa pembuka Yubileum Kaum Muda dirayakan. Tak cuma itu. Selepaskan Berkat Penutup, terdengar satu pengumuman menyentak. Bapa Suci, Paus Leo XIV segera ingin menyapa Kaum Muda. Dan terjadilah! Gema pekik sukacita membahana di Lapangan St Petrus. Paus Leo XIV pun penuh semangat menyambut kehadiran Kaum Muda mancanegara.

Berjubelnya Kaum Muda di sebuah even sekelas Tahun Yubileum ini apakah menjadi satu jawaban dari rasa akan dahaga spiritualitas yang sehat? Yakinlah!

Jika mesti menengok pada beberapa dekade silam, terindikasi bahwa jarak antara ‘Spiritualitas’ dan ‘Agama’ sudah kian melebar. Sebuah dinamika dan fenomen keterpisahan yang tak terelakan. Dan ragam perpisahan itu justru telah mengguncang derap langkah kerohanian Kaum Muda, sebagai satu bagian dari kelompok insan beriman.

Tak bisa dipungkiri bahwa atmosfer kolektif dan aura batin personal Kaum Muda yang kuat berkiblat pada citra kebebasan, malah telah lebih jauh lebarkan jarak antara Agama dan Spiritualitas. Satu arus dikotomi dan fragmentasi antara agama dan spiritualitas telah jadi satu keniscayaan.

Agama itu mengikat. Tetapi Spiritualitas itu membebaskan. Di balik agama terlalu ‘berkuasalah’ kaum elitis mimbar dan altar. Yang dinilai ‘dogmatis, kaku, tradisional, ritual hampa dan kering, menggurui dan mengikat.’ Tanpa banyak kreasi dan minimnya variasi manifestasi dan selebrasi iman.
Agama dikurung dalam ‘Gereja – institusi.’ Sementara Spiritualitas menggelorakan dalam banyak ekspresi iman yang dirasakan ‘hidup dan penuh harapan.’

Pos terkait