In Memoriam Lambertus Tulen Hadjon: “Tuhan Tidak Ingin Saya Terlibat Dalam Permainan Kotor”  

ansel atasoge

Oleh Anselmus DW Atasoge

Siang ini, Minggu, 9 Agustus 2026, waktu seolah berhenti sejenak di Waibalun, Flores Timur. Tepat pukul 13.00, sebuah kabar duka menyelimuti bumi Lamaholot. Bapak Lambertus Tulen Hadjon, sang tokoh pemberani yang hatinya selalu tertambat pada kejujuran, telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta di rumahnya,  tempatnya biasa merenung dan berdoa.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kepergiannya meninggalkan jejak panjang yang tak akan pernah terhapus oleh waktu. Sebuah warisan keberanian, ketulusan, dan keteguhan iman. Ia pergi dengan meninggalkan nama baik, persis seperti keyakinannya bahwa Tuhan selalu menjaganya dari segala permainan kotor dunia.

Untuk mengenang sang legenda, melalui tulisan ini saya hendak memutar kembali waktu, membuka lembar memori dari sebuah pagi yang tenang di 20 April 2016, ketika ia masih duduk di teras rumahnya, membagikan hikmah hidup dengan penuh kesahajaan kepada saya yang kala itu diminta Om Tony Kleden, Pemimpin Redaksi Kabar NTT.

Hari itu, mentari belum lagi meninggi. Angin sepoi-sepoi menerpa pepohonan membuat pagi itu menjadi indah sekali. Di pelataran rumahnya di Waibalun, Flores Timur, Sang Tokoh duduk menekuni halaman-halaman Ruah, buku renungan harian untuk umat kristiani. Rabu, 20 April 2016, menjadi saksi bisu ketika kami ‘mendulang kisah’ dari bibir seorang lelaki yang oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, pernah dicari secara khusus di tengah keramaian MUKSI (Musyawarah Umat Katolik Seluruh Indonesia) di Klender. Sang Uskup ingin bertemu dengannya karena satu alasan yang penuh bobot. Sang Uskup memandang lelaki itu sebagai ‘tokoh pemberani dari Flores Timur’.

Pos terkait