Oleh Robert Bala

Saya bukan Angkatan 85 Ledalero (angkatannya P. Paul Budi Kleden, SVD). Tetapi kedekatan dalam pandangan telah memersatukan. Karenanya meski tidak mengikuti secara langsung webinar demi mengembangkan Teologi Terlibat, tetapi melalui streaming youtube, saya boleh mengikutinya.
Di antara banyak pikiran, saya tersentuh dengan presentasi P. Stanis Kofi, SVD. Stanis yang kini bekerja di Rumah Induk Steyl, Belanda membuat interpretasi menarik tentang jiwa seni Arnold Janssen yang dikaitkan dengan Covid-19.
Harmoni Alam Semesta
Arnold Jannsen tentu tidak pernah mengalami atau mungkin tidak pernah terpikir tentang Covid-19 yang melumpuhkan seluruh dunia, Pasalnya ia hidup dan wafat seratusan lebih tahun yang lalu (1837-1909). Yang menarik, dari lukisan yang ditinggalkan di Steyl, Arnold Janssen membuat interpretasi menarik tentang harmoni alam.
Dari gambar ini terlihat bahwa paling bawah terlihat empat unsur alam: api, tanah, air, dan udara. Ia jadi gambaran bahwa manusia terbentuk dari empat unsur alam (natural sphere) dana akan kembali lagi kepadanya.
Keterkaitan keempatnya bisa saja menghadirkan interpretasi beranekaragam. Secara pribadi, susunan gambar yang meletakkan api di bagian paling dasar bisa menggambarkan bagian paling ekstrem. Di sana sudah dari ‘sononya’, ancaman bencana alam itu selalu nyata.
Tetapi manusia tidak perlu takut. Di atasnya ada tanah, air, dan udara yang menjadi kekuatan penyeimbang. Selagi tanah, air, dan udara itu terjaga maka panasnya api justru hanya akan menghangatkan. Ia tidak membuat alam jadi beku tetapi menerangi, menghangatkan, dan seperti api (cahaya) yang menjadikan bumi berwarna.







