
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kota Manaus, bagian utara negara. Tanpa saya kenal ternyata penumpang yang bakal duduk di samping saya di pesawat berkerudung, seorang biarawati dan berjaket khas dari Asia. Namun agar tidak menjadi malu, saya diam seribu bahasa karena takut salah kaprah. Baru pada saat berada di ruangan tunggu Bandara Manaus, saya memberanikan diri bertanya kepada penunpang tersebut dalam bahasa asing juga. Ternyata dia adalah suster berasal Sumatra – Indonesia. Namanya Suster Agnes.
Wah dunia gelap dan asing tadi sepertinya kembali bercahaya, membuat saya tanpa segan-segan mengatakan kalau saya seorang Pastor SVD juga dari Indonesia , tepatnya NTT dalam perjalanan ke Kota Santarém-Amazon. Serta-merta Suster Agnes menimpali, “Saya juga”.
Namun, suasana gembira itu tidak lama saat pesawat bertuliskan VARIG mendarat di landasan bandara Kota Santarém. Kami berpisah karena masing-masing dijemput ke biara entah di mana letaknya dan berapa jarak pemisah .
Cuaca panas terik musim kemarau sangat terasa. Sekitar jam 3 sore keluar dari pesawat dan berjalan menuju ruang pengambilan barang sambil menjinjing tas kecil dan mendorong tas besar bawaan saya. Lagi-lagi orang asing masing-masing dari India dan Irlandia yang saya jumpai datang menjemput dan menghantar saya ke Rumah Pusat SVD.
Saya disambut dengan ramah meski saya tidak mengerti apa-apa yang mereka ungkapkan, kecuali mereka yang berbahasa Inggris. Syukur kepada Tuhan karena banyak orang berbahasa Inggris meskipun saya sendiri sangat miskin penguasaan kosa kata.







