Peringatan HPN 2011 di NTT menjadi momentum mengangkat pamor dan nama NTT ke kancah nasional dan dunia. Hasilnya? Investor berdatangan. Hanya hitungan beberapa tahun saja usai gelaran HPN 2011, berdiri banyak hotel. Hotel Aston, Hotel Amaris, Hotel Neo Aston, Hotel T-More, dan lain-lain.
Pasar modern dan mall juga berdiri. Hypermart, Lippo Plaza, Transmart. Belakangan alfamart dan indomaret menjamur di seantero NTT. NTT, khususnya Kota Kupang, bergeliat genit.

Ini efek ekonomi. Efek lain juga ada. HPN 2011 jadi momentum memproklamirkan bahwa NTT aman, siap dan bisa menjadi tuan rumah iven-iven nasional dan internasional.
Tour de Flores dan Tour de Entete adalah dua iven internasional paling fenomenal. Mahal? Tentu saja. Pesta 17 Agustus tingkat RT saja habiskan anggaran tidak sedikit. Dengan kurang dan lebihnya, kedua iven itu tuntas dan sukses diselenggarakan.
Meski mahal biaya penyelenggaraannya, efek dan pesannya lebih mahal dari harga uang. Tidak tepat, karena itu, jika hanya dikonversi ke rupiah. Bahwa NTT aman, bahwa Indonesia aman. Aman untuk penyelenggaraan iven internasional dan nasional. Dengan begitu, Tour de Flores dan Tour de Entete menjadi kesempatan membangun diplomasi internasional.
Berapa dana yang dikeluarkan Pemda NTT untuk penyelenggaraan HPN 2011? Saya jadi ingat lagi. Urusan dana HPN 2011 ini bikin pening panitia dan Pemda NTT. Rapat sana, rapat sini. Dari mana dananya? Ternyata uang bukan segala-galanya. Semangat yang diusung ketika itu satu saja : kebersamaan. Wujudnya bakutopang melalui urunan.







