Spirit kebangkitan NTT itu digelorakan dengan lantang penuh semangat oleh Melki Laka Lena ketika menutup Tour de Entete di Labuan Bajo, 21 September 2025.
“Hari ini, ketika kita menutup Tour de EnTeTe 2025, sesungguhnya kita membuka babak baru. Melalui pengalaman ini, NTT telah belajar banyak tentang bagaimana merencanakan, menyelenggarakan, dan mengelola sebuah iven internasional. Kami sadar tentu masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dan kami berkomitmen untuk berbenah lebih baik lagi ke depan. Mari menjadikan Tour de EnTeTe bukan hanya sebagai acara tahunan, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan NTT,” tandas Melki Laka Lena.
Melki dan Johni tahu, seperti juga kita semua paham, ada banyak suara protes. Protes iven ini digelar di tengah efisiensi anggaran. Mempersoalkan dan meributkan dana APBD NTT senilai Rp 5 miliar untuk iven ini. Pemda NTT dinilai tidak peka, tidak sensitif dengan kondisi masyarakat. Dinding-dinding media sosial ramai dengan ungkapan kekecewaan.
Siapa pun warga, dia punya hak bersuara. Negara, dan karena itu juga aparatur negara, menjamin hak warga bersuara. Tetapi ketika Melki –Johni memutuskan menggelar dan mendukung Tour de Entete, duet ini sadar sungguh bahwa langkah kaki dan bakti tidak berhenti karena rumor. Yang penting adalah karya yang abadi.
Kalau Frans Lebu Raya menggunakan formula ‘NTT Bisa’, Melki-Johni lebih afdol dengan formula ‘NTT Bangkit’. Inti pesannya sama: tidak berhenti berkreasi untuk kemajuan NTT. Dalam nada guyon : We work the though. Not only talk the though. *







