Menanggapi pemaparan data stunting beserta berbagai indikator dan variabelnya, serta pandangan para pihak dalam forum Rakor, Kepala Bappelitbangda Kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima, SE.M.Si menegaskan bahwa terhitung mulai bulan Januari 2025 sebelum dilaksanakannya Aksi 1, data anak-anak yang akan menjadi perhatian bersama mesti dibereskan.
“Kita akan bekerja secara bergandengan tangan dan saling melengkapi tapi mesti ada data. Data ini akan memandu kerja konvergensi by name by address,” kata Apolonia.
Karena itu, ia memberi mandat kepada tiga orang pejabat dari tiga instansi yakni Dinas Kesehatan, Dinas P2KBP3A dan Bappelitbangda untuk membereskan data dimaksud sebelum pelaksanaan Aksi 1 yang direncanakan bulan Februari mendatang.
Menurutnya, berdasarkan data yang terpilah menurut desa dan kecamatan, akan dikeluarkan profil keluarga dengan anak stunting dan keluarga berisiko stunting.
“Data ini akan kita tayangkan saat berlangsung Aksi 1 sebagai Analisa Situasi sehingga perjalanan selanjutnya di tahun 2025 lebih menukik ke sasaran 2000 lebih anak stunting. Belum lagi yang masuk kategori berisiko stunting yang jika salah penanganan akan berkontribusi menaikkan persentase di tahun 2025,” kata Apolonia.
Selain itu, ia meminta agar inovasi 2H2 Centre yang telah dimodifikasi menjadi Go Cinta 2H2 mesti digencarkan di tahun 2025 ini sampai ke semua jejaring di desa-desa sekaligus mencegah kematian ibu dan bayi.
Data dari 2H2 Centre yang dilaporkan Bidan Kony dari Dinas Kesehatan dalam Rakor bahwa pada bulan Januari 2025 ini saja telah ada kasus kematian ibu saat melahirkan sebanyak 2 orang.







