Pekerjaan apapun yang kita lakukan setiap hari, itu juga kita sedang melakukannya untuk orang lain. Santo Paulus mengatakan: ‘banyak orang yang tidak tertib hidupnya, tidak bekerja dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri …. Dan kamu jangan jemu-jemu berbuat apa yang baik’ (bdk. 2Tes. 3:11-13).
Maka, hendaklah kita menyiapkan diri secara baik untuk menghadapi akhir zaman kita masing-masing. Hidup baik merangkum seluruh hidup kita sebagai orang kristiani. Bukan hanya datang misa atau sembahyang, tetapi juga di luar gereja kita harus mewujudkan kasih persaudraan yang baik dengan sesama, khususnya di tengah keluarga, masyarakat, dengan tetangga, di tempat kerja. Menghormati Tuhan bukan hanya waktu kita misa atau sembahyang, juga melalui perbuatan baik dan tindakan kasih setiap hari kepada sesama.
Pada setiap akhir perayaan Ekaristi, kita selalu mendengar sapaan perutusan: ‘Mari pulang, kita semua diutus’, Tuhan. Bukan berarti tugas kita terhadap Tuhan sudah berakhir, lalu kita pulang ke dunia, ke keluarga, ke masyarakat, ke komunitas, ke tempa kerja lalu berbuat apa saja selama enam hari sampai kita datang sembahyang lagi pada minggu berikutnya. Kita diutus berarti, kita membawa Yesus yang kita sambut dan sabda-Nya yang kita dengar ke tengah hidup harian kita sampai kita datang lagi pada Minggu berikutnya lagi.
Menghadapi hari kiamat, bukan soal nanti tetapi soal sekarang, setiap waktu, kini dan saat ini. Dunia memang menawarkan banyak hal yang menyenangkan tetapi apa artinya ‘seseorang memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya’ (bdk. Mat. 16:26; Mrk. 8:36).







