Menyongsong HUT Pancasila, 1 Juni 2022, penulis mencoba merefleksikan tentang nilai Pancasila dalam semangat membangun desa, membangun Lewotanah kontribusi kecil dalam membangun peradaban dunia. Desa adalah sebuah tatanan sosial budaya. Desa adalah sebait syair tentang kesunyian, tentang kesederhanaan, tentang kearifan bagaimana membangun dari keterbatasan, tentang kesadaran untuk terus kembali berpijak pada nilai-nilai warisan leluhur. Desa dalam tarian kesunyian adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun bangsa ini.
Sejak Kesepakatan Lewo (baca desa) ini pada tanggal 1 Juni 2019, Pemerintah Desa terus berjuang mewujudkan amanat keterpanggilan ini. Ada sekian banyak tantangan di awal dan sesudah proses ini tetapi, kekuatan Lewo terlalu kuat untuk dikalahkan oleh segelintir pihak yang tidak memahami tentang Spirit membangun Lewo. Penulis sangat bersyukur, Program Konservasi Terumbu Karang bisa menghantar Desa Lewotobi meraih juara II tingkat Propinsi untuk Kategori Desa dengan Program Inovasi. Saat ini Penyu-Penyu semakin akrab dengan Pantai- Pantai di Lewotobi, di Pantai Blelawutun, Pantai Waiotan. Masyarakat menemukan sekian banyak titik penyu bertelur dan setelah dipastikan, lokasi ini ini dipagari. Bersama Kelompok Konservasi dan Pemerintah Desa, Masyarakat terus disadarkan dan semakin sadar serta tidak berani lagi mengambil telur penyu untuk dikonsumsi. Dulu kalau mendapatkan penyu saat bertelur, penyu dan telur penyu dieksekusi untuk konsumsi. Sekarang masyarakat telah sadar dan perlahan tumbuh jiwa melindungi dan merawat. Sebuah proses transformasi nilai sedang bergerak dan terus menemukan bentuk-bentuk.







