Para leluhur ketika menyelesaikan konflik, mereka melalui sebuah proses pencarian kebenaran lewat Tura Neda Lone Kemie Padu. Artinya mereka tidak mengandalkan hanya kemampuan mereka tetapi mereka meletakkan dalam pengharapan kepada Sang pencipta untuk menujukkan kebenaran serta cara penyelesaian.
Penyelesaian sebuah konflik juga disertai dengan tindakan dalam ritus yang disebut “Hoi Bake”, memperbaiki kesalahan agar sosial budaya kehidupan generasi selanjutnya terlepas dari ikatan dosa sebelumnya. Ada proses merangkul kembali dan memperbaiki bukan proses terus memelihara konflik dan membangun kubu- kubu permusuhan, apalagi menjadikan setiap momentum konflik sebagai bahan untuk kotbah. Para leluhur setelah menyelesaikan konflik, mereka melipatnya dengan rapih permasalahan itu dan menyonsong masa baru dengan kebersamaan yang ditandai dengan “ Hue Nuhe atau Kela Tou Nuro Rua, sebuah proses ritus perdamaian.
Menghayati Pancasila hanya bisa dilakukan ketika manusia melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya, ketika melihat alam sebagai saudara kehidupan. Menghayati Pancasila dalam Berdesa adalah kerelasediaan untuk terus belajar memberikan diri bagi pembangunan sebuah peradaban kehidupan lebih baik, berbasis warisan nilai-nilai luhur. Kami Indonesia, Kami Pancasila, Kami Orang Desa Kami Pancasila. Dari Desa untuk Indonesia, dari Desa untuk dunia.
Selamat Merayakan Hari Lahir Pancasila.
Pengamat dan penulis isu-isu sosial kebudayaan, penggagas pembangunan desa berbasis budaya ekologis







