Nilai transformasi ini juga berpengaruh ke desa desa tetangga. Seorang nelayan, Andreas Tutu Muda, di Desa Riangbaring yang selalu mengambil telur penyu untuk konsumsi dan dijual kini telah beralih menjadi pegiat Konservasi Penyu dan Telur Penyu. Kesadaran Ande, demikian sapaanya, bukan hanya karena takut dengan regulasi tentang perlindungan penyu tetapi karena muncul kesadaran tentang pentingnya kelestarian ekosistem.

Spirit Melindungi dan Merawat Ekosistem adalah bentuk kecil cara masyarakat desa menghayati nilai-nilai Luhur Pancasila yang lahir di Bumi Flores, Inspirasi dari Sang Pencipta kepada Sang Proklamator Soekarno. Merefleksikan nilai-nilai luhur, mengkaji dan menyajikan sebagai sebuah design membangunan desa adalah cara bagaimana membangun desa bersumber dari kekuatan Lewo, kekutatan yang diwariskan oleh leluhur. Setiap narasi tentang Lewo lewat tuturan –tuturan lisan serentak juga ada proses transformasi kekuatan-kekuatan itu yang sering tidak disadari. Kekuatan-kekuatan Lewo adalah bisikan panggilan yang harus didengarkan dengan bijak karena ia mengandung sejuta makna.
Pancasila dalam Refleksi Nilai Lamaholot
Keluhuran Nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang adalah hasil dari dialog kosmik dengan wujud tertinggi yang disebut Ama Lerawulan Ema Tana Ekan, ( Sila Pertama ) melalui perantara Kewoko Kelite, Nitu Pudu Hari Neda (Kewoko Kelite : arwah para leluhur, Nitu Pudu : Penjaga Hutan hutan, Hari Neda : Penjaga Laut dan pantai ) melalui sebuah proses pencarian kebenaran yang disebut Tura Neda Lone Kemie Padu.







