Si bungsu seorang perempuan. Namanya Maria Lepan Kleden. Maria Lepan Kleden hanya seorang ibu rumah tangga biasa.
Tiga orang adik Uskup Sani tinggal di Waibalun. Membangun rumah tangga masing-masing. Ketiganya hidup bersahaja, sederhana dan bertarung hidup dengan keringat sendiri. Nasib agak beruntung dialami Petrus Sina Kleden karena bisa bekerja sebagai tukang kayu di bengkel misi Larantuka.
Kita mesti memahami bahwa pada era 1950-an hingga 1980-an bekerja di misi itu terbilang sukses. Kelas menengah. Mereka mempunyai pendapatan tetap setiap bulan. Belum lagi ada jatah beras setiap bulan 10 kg/kepala.
Sedangkan Wilhelmus Lawe Kleden dan Maria Lepan Kleden tidak seberuntung Petrus Sina Kleden. Sekolah juga tidak selesai. Wilhelmus sudah sampai kelas V sekolah dasar. Itu artinya tinggal 2 atau 3 tahun dia sudah bisa menjadi guru jika lanjut sekolah. Apalagi selalu jadi bintang kelas.
“Saya harus berhenti sekolah karena Petur (panggilan mereka kakak beradik untuk Petrus Sina Kleden) ada di ‘ambak’ (ambacht shcool/sekolah pertukangan), Pa Tua (panggilan kami untuk Uskup Sani) di Belanda, sementara Uba (panggilan mereka kakak beradik untuk bapak mereka Yosep Suban Kleden) tidak bisa kerja kebun karena kakinya tidak bisa. Maka saya harus berhenti sekolah dan kerja kebun bantu orangtua,” begitu jawaban ayah ketika kami anak-anak tanya kenapa tidak lanjut sekolah.
Meski begitu empat bersaudara ini akur mati punya. Tidak ada cekcok di antara mereka. Sampai tua dan meninggal dunia pun tetap akur.





