Bagi umat Paroki Waibalun, bagi keluarga besar Kleden, Kean dan semua rumpun keluarga, Uskup Sani adalah kebanggaan. Cerita tentang Uskup Sani selalu menginspirasi. Kisah tentang sekolahnya di Belanda, menjadi dosen di Ledalero, menjadi ahli hukum gereja, dan kemudian jadi seorang uskup di era tahun 1960-an hingga awal 1970-an seperti energi baru yang memompa imajinasi anak-anak muda untuk mengikuti jejaknya.
Saya masih ingat sampai sekarang kalau Uskup Sani datang libur di Waibalun. Kedatangannya di Waibalun di tengah keluarga menjadi momentum yang sangat membahagiakan. Sudah pasti keluarga besar berkumpul. Berkumpul pada tahun tidak enak waktu itu tentu jarang-jarang terjadi. Tugas kami anak-anak adalah ramai-ramai mengejar ayam yang hidup bebas di alam luas untuk kemudian jadi santapan para orang tua.
Jatah kami jelas. Kaki ayam yang kemudian dibakar di bara api. Ritual makannya juga mesti ramai-ramai. Gigit bergilir. Dari satu mulut ke mulut lain. Tetapi nikmatnya tiada tara.
Anak laki-laki yang lebih tenang, sopan, tidak nakal seperti Pater Paul Budi Kleden tentu lebih mudah mendekat ke Uskup Sani. Sebaliknya kami yang agak kaco dan nakal tidak bakal mendekat.
Saya masih ingat beberapa permainan anak-anak dibawa dari Bali. Ada pesawat terbang. Ada mobil-mobilan. Bayangkan, pada masa itu mainan anak-anak sudah kami pegang. Juga ada kipas angin terbuat dari kayu cendana. Yang paling dikenang adalah bola kasti. Bola ini kami simpan sampai bertahun-tahun sesudah kepergiannya.





