Paskah Yang “Terblokade”?
Hidup yang mengalir dan berubah. Itulah makna Paskah sesungguhnya! Pesakh Israel maknai pembebasan dari tirani Firaun di Mesir bergerak menuju Tanah Terjanji. Paskah Kristiani merujuk pada beralihnya Kristus dari kegelapan makam menuju terang cahaya kemenangan! Dari pintu makam yang tertutup ke batu penutup makam yang sudah terguling.
Pada intinya Pesakh, paskah selalu berarti passover. Satu peralihan dari satu masa ke masa berikutnya; dari satu tempat ke tempat selanjutnya; dari satu atmosfer ke atmosfere berikutnya; dari satu tampilan ke tampilan selanjutnya. Tetapi tentunya yang dimuliakan adalah satu passing-over menuju keadaan yang hidup lebih baik. Bahwa dalam iman akan Kristus yang bangkit, selalu ada harapan menuju satu era kehidupan yang lebih bercahaya. Paulus dari Tarsus punya keyakinan bahwa adalah satu kesia-siaan iman jika Kristus tak dibangkitkan. Bahkan segala usaha pewartaannya menjadi sia-sia pula (cf 1 Kor 15:14).
Tetapi, seyogyanya, kita mesti maklum! Paskah keseharian kita bukannya selalu berjalan mulus. Tak ber-pesakh-nya kita lahir dari cara pandang kita yang distortif, sempit, bahkan di ambang kebutaan. Prahara Ever Given di Terusan Suez tak sekadar badai pasir penuh daya kekuatan! Tapi bahwa butir-butir pasir padang gurun itu adalah simbolisme blokade yang mempersempit cara pandang. Butir-butir pasir padang gurun adalah petaka terhadap kesempitan ratio (akal budi) serta sumpeknya alam batin yang melumpuhkan mindset akan kehidupan yang lebih luas dan inklusif.







