Antara Terusan Suez dan Paskah Kita

Kons Beo

Di balik sulitnya Indonesia ber-passingover, tentu ada butir-butir pasir padang gurun yang terus tertiup hanya untuk sebuah alam narrow-minded! Kita dicengkram arus fanatisme gila. Diberondong oleh gejolak fundametalisme tak berakhlak. Kita benar-benar hidup dalam alam sungguh edan. “Dan di dunia yang gila”, kata  Akira Kurosawa, sutradara film dari Jepang, “hanya orang gila yang waras.” Iya, hanya orang gila yang merasa diri ‘waras’ ketika ia merasa damai dan bersahabat dengan teror, kekerasan, kehancuran serta aneka tindakan penuh kejam di dunia fana, dan yakin mengalami kenikmatan dan kepuasan  di dunia seberang sana.

Blokade ‘Paskah’ Nasional tentu tetap terjadi saat kita malah ‘bergembira’ menyambut segala yang membutakan dari butir-butir pasir yang tertiup dari padang gurun. Hegemoni ide-ide maut menjadi semakin leluasa dalam ramuan kata-kata, sorakan dan pekikan untuk menghancurkan terhadap ‘yang bukan kita.’ Entahlah, sampai kapan kita merasa bosan bersahabat dengan butir-butir pasir maut padang gurun? Sekurang-kurangnya si Ever Grade telah merasakannya di Terusan Suez.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dari ‘Terminal Death’ menuju ‘Paschal Death’

 Akhirnya, apakah ada sesuatu yang terblokir demi sebuah kematian tanpa harapan? Itulah ‘terminal death.’ Ia dipahami sebagai kematian akhir dari segala ritme dan dinamika kehidupan. Saat sirna serta musnahlah segala kemungkinan harapan! ‘Terminal death’ adalah gambaran kematian yang sia-sia. Kematian konyol akibat terkaburnya akal sehat dan struktur kejiwaan  akibat indoktrinasi palsu dan ilutif.

Pos terkait