Sepantasnya kita berlayar menuju alam ‘paschal death’. Ketika kematian itu sungguh menjadi satu gita kehidupan. Kisah kematian yang menghasilkan buah. ‘Paschal death’, oleh Rolheiser (1998), ditangkap sebagai kematian yang menghasilkan dan mewariskan buah-buah kehidupan. Itulah gambaran kematian biji gandum yang jatuh ke tanah, lalu menghasilkan serta mewariskan banyak buah (cf Yoh 12:24).
Kita tentu tak pernah alami Paskah ketika kita hanya terkurung dalam blok-blok yang sempit! Karena dengannya, kehidupan kita sendiri jadinya sungguh terblokir.
Si Ever Given, kapal raksasa itu, sudah mengapung! Ia mungkin saja telah dilayakkan untuk kembali berlayar menuju Rotterdam. Kita pun mesti berlayar dan beralih menuju alam yang lebih menjanjikan. Dan janganlah pernah lagi untuk tetap dalam “tinggal aku sendiri terpaku menatap langit….” Bila sekadar ingin bertanya, “Mengapa di tanahku terjadi bencana…”. Iya, bencana kemanusiaan. Yang mesti diperangi bersama.
Marilah segera beralih….
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma







