Sisi Lain Yang Memperkaya
Manusia makin berkembang. Dunia makin maju! Harus diakui itu dapat terlahir dari adanya pertarungan sengit antara, sekurang-kurangnya, dua sisi yang opositoris sifatnya. Manusia menjadi kaya dalam pengetahuan dan pengalaman karena keinginan yang paten untuk terus belajar. Tetapi manusia semakin menjadi tajam, cerdas, logis dan kritis dalam berbagi pertarungan narasi yang sehat.
Debat adalah dinamika dari bentangan opini, argumentum et factum yang harus dihadang oleh tinjauan cerdas alternatif. Bukankah dari situ terlahir pikiran yang semakin OK? Agar tak tinggal tetap dalam kebenaran mutlak dari sudut pandang yang mahatunggal? Atau setidaknya agar logika manusia tidak tetap tersangkar mati dalam kedunguan?
Ambil saja contoh, misalnya, keras kepalanya Ribka Tjiptaning untuk menolak disuntik vaksin corona tidak dilihat semata sebagai sikap tidak elok secara politik seorang anggota DPR RI dari PDIP untuk mendukung pemerintah. Di sisi lain, sikap tegas si Ribka ini, oleh pikiran lain, dianggap telah mencuri star lahan basah bagi sekelompok orang yang selalu asal kontra kebijakan dan sikap pemerintah! Ya, lebih baik ditentang oleh orang dalam ketimbang didor dan dihabok terus oleh yang selalu jadi tukang nyinyir.
Atau terdapat pandangan lain yang lebih gila lagi. Bahwa kemarahan besar kelompok garis keras atas kematian enam laskar FPI akibat perjumpaan sengit dengan aparat keamanan tidaklah karena alasan HAM semata. Tetapi ada alternatif opini lain bahwa kemarahan itu adalah satu sikap negatif reaksi alam bawah sadar terhadap aparat keamanan (polisi). Pihak keamanan dianggap telah merampok kebiasaan kelompok teroris yang akrab dengan kekerasan dan bahkan kematian. Singkatnya, yang mau dikatakan adalah ‘kekerasan itu adalah milik dan ketrampilan kami. Mengapa kalian (pihak keamanan) mencurinya?’







