Metamorfosa dalam ubah nama yang ditambah atau diganti dengan embel-embel ‘damai, persatuan atau persaudaraan’ bagi kelompok pro khilafah tak cukup mempan untuk menghapus rasa penuh awas dan putihkan jejak hari-hari silam yang suram. Penuh kekerasan plus sikap serta ujaran kotor, tak berakhlak dan sarat kebencian!
Ketiadaan Kebaikan dan Keburukan Bersama
Lihatlah. Yang nyata-nyata salah di hadapan umum, bisa diyakini benar oleh sekelompok yang lain! Pun sebaliknya, yang sungguh kasat mata benar dan baik bisa ditorpedo sebagai satu keburukan bahkan kejahatan.
Maka tak heran, misalnya, apa yang oleh umum dan oleh negara dianggap dan dialami sebagai racun yang merusak, bisa didaulat sebagai mutiara yang berharga oleh pihak tertentu. Soal pahlawan atau musuh, ya tergantung orang itu ada di pihak mana? Ya, apapun terjadi, yang penting beda, bung! Apalagi bila dikaitkan dengan kepentingan!
Kita memang ketiadaan kebaikan bersama yang mesti sama-sama diperjuangkan dan ditingkatkan! Kita ketiadaan musuh bersama yang mesti diperangi bersama-sama pula. Kita telah terkotak-kotak oleh kepentingan sendiri dan kelompok.
Di balik semuanya, apalagi kalau bukan demi idiologi, kuasa, serta berbagi jaminan hidup nan fana. Dan lebih fatal lagi bahwa kita merasa sanggup memborgol Tuhan di dalam penjara agama! Atau bahwa Tuhan sungguh telah dijadikan ‘barang dagangan murahan’ di atas panggung dan mimbar yang semestinya sejuk dan damai.
Ya, ‘Entah sampai kapan? Tak ada yang bakal dapat menghitung…’
Collegio San Pietro-Roma






