“Apapun Terjadi: Yang Penting Beda, Bung”

agama1

Yang Terpenting: Asal Beda dan Asal Jangan…

Ini repotnya bila term oposisi digiring sungguh hanya dalam pemahaman konfrontatif  (frons, dahi-Latin). Artinya, bila berada di garis oposisi itu berarti tidak ada pilihan lain selain wajib hukumnya untuk lawan dan tabrak langsung dan lurus, ‘dahi dengan dahi’, terhadap apapun yang jadi kebijakan tindakan pemimpin atau penguasa. Alur oposisi seperti ini akan panahkan segala kritik tajam.  Dan sedikitpun tak ada ruang kecil untuk satu pengakuan pada yang berbeda.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Hanya kritik dan terus nyinyir adalah ancaman serius bagi kebersamaan hidup atas dasar ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan…’ Yang kuat itulah yang menang. Itulah yang hendak dijunjung ketimbang harus hayati hidup atas dasar nilai, hak asasi manusia, atau kepentingan bersama. Musyawarah demi menggapai jalan terbaik atas dasar kemajemukan, dan demi hidup hidup damai dalam persatuan, misalnya, telah diobok-obok dan tidak diakui. Tak sulit untuk dimengerti bahwa dibalik semuanya adalah kepentingan sepihak yang mau diamankan. Entah dengan jalan kekerasan sekalipun.

Demi mengamankan kepentingan dan cita-cita eksklusif siapapun (sekelompok) bisa terjun bebas dalam paradigma asal beda dan asal jangan Ya, asal beda dan asal jangan dia, jangan mereka, jangan yang dari kelompok sana, jangan dari yang bukan bilangan kita yang mesti jadi pemimpin atau pemegang tampuk kuasa.

Kita berani ambil contoh saja. Andai sudah ada julukan gubernur seiman, apa mesti Presiden Jokowi wajib berada di jalur sama bahwa Kapolri juga mesti seiman? Seruan untuk dirikan dan tegakkan negara khilafah, misalnya, tentu tak lepas dari gerakan masif dan terstruktur dicurigai telah terpola dalam bingkai  asal beda dan asal jangan: Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI!

Pos terkait