Bank NTT: Gonjang Ganjing Lagi

Hugo Rehi Kalembu9
Hugo Rehi Kalembu

Oleh Hugo Rehi Kalembu

Ada dua masalah pokok yang dihadapi Bank NTT, sesuai catatan Pansus DPRD NTT tentang LKPJ Gubernur NTT 2023. Pertama, ancaman degradasi menjadi BPR (Bank Perkreditan Rakyat), jika modal inti minimumnya belum Rp 3 triliun  paling lambat 31 Desember 2024.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kedua, gonjang ganjing pemberitaan tentang Bank NTT yang bukan saja sangat  membingungkan tetapi juga mencemaskan publik. Bank NTT seolah-olah menjadi ajang pertarungan pelbagai kepentingan yang bisa jadi menguras kepercayaan publik terhadap Bank NTT.

Penjabat Gubernur NTT sebelumnya, Ayodhia Kalake, sebagai Pemegang Saham Pengendali dengan penuh kearifan dan keberanian telah memecahkan kedua masalah tersebut di atas melalui RUPS- LB yang diselenggarakan pada 8 Mei 2024 dengan  dua keputusan mendasar. Pertama, persetujuan prinsip kerja sama KUB dengan Bank DKI dan  rencana plan B-nya, bila  KUB dengan Bank DKI gagal.  Kedua,  perubahan berupa pergantian dan rotasi kepengurusan Bank NTT.

Keputusan RUPS tanggal 8 Mei 2024 tersebut diapresiasi oleh DPRD NTT dengan dua rekomendasi. Pertama, percepatan proses persetujuan OJK Pusat melalui fit and proper test pengurus yang baru ditunjuk RUPS-LB. Kedua, supaya dibuat time line proses kerja sama KUB  dengan Bank DKI agar kalau boleh, dituntaskan sebelum 17  Agustus 2024.

Dari kedua rekomendasi DPRD  di atas, baru satu yang sudah dilaksanakan secara baik,  kendati alot dengan ditandatanganinya perjanjian  antara Pemegang Saham Pengendali (Shareholder Agreement/SHA) dan Akta Kepatuhan  oleh kedua belah pihak  pada tanggal 16 Desember 2024 di kantor pusat Bank Jatim.

Pos terkait