Oleh Steph Tupeng Witin

Lembata adalah kabupaten yang menawan. Menatap Lembata saat terapung di tengah laut biru yang menyanggah tubuhnya, ada harapan tersembul. Bukit-bukit silih berganti berubah warna. Hitan keperakan dan hijau. Simbol jatuh bangun mengelola kabupaten otonom berusia 20 tahun ini.
Lembata yang dipangku laut biru terus saja berdansa sepanjang waktu mengikuti irama desakan alam yang energinya lebih dahsyat mengalahkan hasrat siapa pun, mungkin saja yang kebetulan mendapat antaran dulang suara lebih pada musim tidak enak lima tahunan, lalu memakai rentang waktu masa kuasa sebagai karpet kelam hasrat pribadi. Irama dansa alam itu terasa mengguncang bibir dermaga Lewoleba, seolah meruntuhkan keperkasaan tubuh, saat kapal motor melumat dinding dermaga pertanda kaki menyentuh dinding rahim Lembata.
Saat menoleh, Pulau Awololong, kuburan massal nenek moyang orang Lembata memancarkan keindahan tiada tara. Pulau siput ini memendam kekuatan alam yang coba digerayangi oleh tangan-tangan tidak sehat yang sudah terlalu lama mementaskan naskah teater kuasa tanpa tanda baca yang ditulis dengan gagap oleh sebuah tangan yang entah dari negeri antah berantah mana asalnya. Mungkin karena itu orang Lembata bingung mau melangkah ke mana. Terpaksa mengikuti hasrat tak terkendali “dewi khayangan” yang mengelola “negeri kecil salah urus” ini dengan watak melebihi drakula. Mau jalan baik atau buruk, tidak peduli. Asalkan jalan mulus ke rumah masa depan. Kalau ada pohon pandan yang menghalangi mata, harus dibabat, tidak peduli ancaman abrasi dan gempuran tsunami pantai selatan yang bisa saja menelan nyawa dan mengubur perkampungan.






