Catatan Memasuki Tahun 2021: Setia Melangkah

awololong2

Tapi harapan tidak terealisasi mulus di tangan “orang” yang kehilangan jiwa, miskin nurani tapi kaya hasrat memiliki tanah untuk membangun vila masa depan. Usia dua puluh tahun mestinya menampakkan jejak kematangan. Jiwa yang menyatu dengan badan mesti lebih dewasa dalam berpikir, bicara dan bertindak di ruang publik. Tapi yang muncul adalah mulut berlepotan, omong sesuka hasrat, ada orang bawahan yang pusing siap klarifikasi. Istilah adven: luruskan. Tokoh-tokoh dunia sangat terukur pikirannya yang terangkai apik dalam struktur gagasan oral. Kewibawaan sangat terjaga. Orang-orang hebat adalah kelompok intelektual yang gemar membaca buku, bergairah dalam diskusi gagasan dan berhasrat ingin tahu yang positif. Kita punya ini omong balepotan, kalau tersudut lalu marah-marah ditutup ancaman: mau duduk menangis atau terlempar ke sudut terpencil? Orang-orang model ini tidak pernah membaca buku untuk mengisi ruang otaknya yang kosong tapi ahli membaca peluang bisnis privat: tanah strategis mana yang bisa saya ambil dengan dalih wisata, ada dugaan investasi bahan tambang, tentu dengan memanfaatkan bawahan terdekat dan pejabat lokal khususnya desa yang dipegang ekornya sehingga hanya ikut saja saat ditarik seturut hasratnya. Bagai kambing kurus yang diantar ke bukit cinta untuk dieksekusi.

Publik Lembata terlalu lama berkelana dalam sebuah ruang pengap yang sengaja didesain dengan kata-kata magis: cinta, susu, wisata, ile telo, festival, dulang suara. Mungkin saja deretan kata yang bisa diperpanjang lagi ini akan membuat kenyang, hiburan saat berdansa di atas jalan berlubang kolam lumpur coklat, yang kadang dihibur dengan rabat beton sejengkal lalu masuk ke gerombolan batu kembali. Rupanya jalan berbatu yang tidak pernah terurus selama dua puluh tahun otonomi ini yang mengeraskan hati orang Lembata sehingga kehilangan rasa bahwa kaki sedang melangkah di atas jalan yang sama persis saat kita masih satu dengan Flores Timur dulu. Otonomi Lembata dua puluh tahun lalu hanya pintu gerbang bagi pesta pora segelintir elite yang kebetulan mendapatkan kepercayaan irasional rakyat karena dibutakan lembaran lima puluh ribuan untuk isi pulsa di kios pinggir jalan dengan laba dua ribu rupiah. Sementara rakyat menderita sepanjang masa. Hasil bumi melimpah tapi ongkos angkutnya mahal karena infrastruktur jalan yang buruk. Jalan raya dibangun dengan kalkulasi antar dulang pesta sambut baru di kampung-kampung. Kalau beri 100 suara berarti jalan sepanjang 100 meter. Itu pun belum disunat dananya yang diduga untuk penerima dulang yang tidak penuh-penuh.

Pos terkait