Ingat Paskah, Ingat Larantuka

Semana santa larantuka patung tuan ma.

Teringat kisah mama saya. Tahun 1937 ketika masih berusia  dua tahun, mereka ‘merantau’ ke Sumba, tepatnya di Waikabubak. Ke Sumba karena nenek saya dikirim misi Katolik sebagai guru ke Waikabubak.  Di tahun-tahun itu, kisah mama saya, kebanyakan orang Sumba masih pakai cawat. Pakaian dan sarung hanya dikenakan para bangsawan.

Kisah dan sejarah tentang kehadiran dan jejak karya para misionaris di Larantuka, terutama tentang Semana Santa, dengan gemilang ditulis oleh Romo Dr. Yohanes Hans Monteiro dalam buku berjudul, “Semana Santa di Larantuka, Sejarah dan Liturgi” (Penerbit Ledalero, 2020).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di tengah hujan lebat di penghujung Januari 2021 lalu, saya melacak dan menemukan buku ini di Kupang.  Dari tangan seorang kerabat penulisnya, buku ini saya dapat. Tidak tunggu lama, saya melumat buku ini dengan kuriositas sangat tinggi. Pemicunya satu saja. Ingin mengetahui dari sumber jelas, tertulis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Romo Hans menulis buku ini dengan referensi luar biasa kaya. Dalam bahasa Jerman,  Portugis, Inggris dan Indonesia. Catatan-catatan harian para misionaris ditunjukkan dalam bahasa aslinya.

Dari buku ini kita tidak hanya mengerti tentang  Larantuka dan tradisi Semana Santa yang terwarisi dan dipraktekkan hingga sekarang. Lebih jauh dari itu, dari halaman-halaman buku ini kita bisa menangkap konteks situasi, konteks sosial masyarakat, medan karya para misionaris, ekspresi dan ungkapan iman umat pada tempo dulu.

Saya suka isi buku ini. Bahkan pada beberapa bagian, saya baca beberapa kali. Baca sambil mengingat-ingat praktek rangkaian Semana Santa hari ini di Larantuka.

Pos terkait