Izinkan Aku Untuk Tak Percaya Sepenuhnya

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Biarkanlah semuanya ‘jadi tersembunyi namun nyata di dalam diri pribadi.’ Sang Bijak ingatkan, “Biarkan semuanya berkobar dalam diri sendiri, agar api rohani pribadi tetap bernyala. Dan selalu ada harapan untuk membara walau dalam situasi dan kisah hidup nan berat dan genting.”

Apa yang tersembunyi di dalam ‘tabernakel diri’ itu sama sekali tak terkait dengan ‘pelitnya berkata-kata sebagai satu share iman.’ Apa yang disebut sebagai ‘keyakinan pribadi internal’ tidaklah secara simplistik dihakimi sebagai sikap dan perilaku a-sosial religius spiritual.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Antara Terkesan Dan Pada Kenyataan

Mari berlanjut pada tantangan berikutnya. Siapa pun kita bisa tergoda untuk ciptakan image positif. Ini pun bisa berlaku pada ‘jaga image rohani.’ Akibatnya kita masuk jebakan ‘diberi kesan (terkesan), ternilai, pada kata orang.’ Sayangnya, ‘jaga image’ seperti ini sebenanya bisa juga terpeleset untuk membungkus kenyataan kita yang sebenarnya.

Dalam area tuntunan menuju penemuan dan penerimaan diri (self discovery & self acceptance), bagaimana pun seseorang tak bakal sesempurnanya  ‘memahami dirinya sendiri.’ Yang terlihat kalem dan banyak senyumnya sesaat saja bisa mengamuk dan membara. Yang ternilai tak punya apa-apa, sederhana, seperti tak ada apapun yang patut dibanggakan, ternyata ‘diam-diam ubi berisi.’

Kata orang, “Manusia, iya kita-kita ini adalah sepotong hati yang tak terduga luas dan dalamnya.” Sepertinya, setiap individu di hadapan sesamanya hanyalah ‘opini dan penilaian tentangnya. Hanyalah sebatas tafsiran. Bukanlah kenyataan. Apalagi sebagai ‘kenyataan diri yang termurni.’ Mungkin tak sesuai konteksnya, namun setidaknya dapat dipahami dalam terang Nietzsche, “Fakta tak pernah ada. Yang ada hanyalah tafsiran demi tafsiran…”

Pos terkait