Tak Kenal Diri?
Walau sering ternilai sebagai ‘tidak kenal atau tidak tahu diri, atau pun tidak sadar diri’ toh setiap orang pasti paham tentang dirinya sendiri dalam tingkatan paling pribadiah! Karena itulah setiap kita pasti tahu titik batas jangkauan tertinggi dan terendah citra – marwah diri sendiri.
Sensitivitas akan diri sendiri yakinkan kita bahwa kita tengah dan masih ditafsir rendahan dan murahan. Atau pun sebaliknya kita sadar bahwa “Aku sekian disanjung di sana-sini dengan inflasi gloria yang sebenarnya tercecer dan belepotan sana-sini. Yang tak layak aku dapatkan. Dan memang tak sesuai kenyataannya.”
Sebab itulah, kembali pada diri sendiri sepantasnya jadi ‘jalan senyap’ kepada keakraban dengan sendiri. Untuk mengoptimalkan titik-titik diri yang terabaikan. Atau juga bahwa kita masuk kepada kepasrahan diri yang sehat untuk ‘memeluk diri yang tak indah.’
Antara Diri Yang Nyata dan Yang Ditafsir
Dan persis di lintasan seperti inilah, seyogiyanya, ‘tak percaya sepenuhnya pada apa pun dan siapapun mesti menjadi alarm indah untuk diri sendiri. Dalam diri sendiri sepantasnya terpasang alarm lonceng berdentang. Di saat dibentur arus rasa kecewa, putus asa, diabaikan, disingkirkan, disepelekan, dipermainkan… toh telah ada alarm dalam diri yang terpasang. Itulah kenyataan hidup yang mesti dilewati. Dan di situlah, kekuatan diri menjadi teruji.
Sebaliknya, di saat dilanda banjir puja-puji dan gelora histeria-eforia, toh kita tetaplah bertahan di atas karakter diri, dengan sisi light dan juga shadow-nya. Dalam tampilan diri sisi terang, dan juga banyak suramnya.





