Apa yang disebut manikeisme politik pun sudah sekian transparan. Demi simpati publik, tarung sengit antara ‘kerajaan terang’ versus ‘kerajaan gelap’ digaungkan! Tentu dengan catatan tebal penuh perhitungan cermat. Bahwa Paslon usungan, oleh Tim Suksesnya, adalah bakal ‘Raja dan Perdana Menteri’ penuh harapan, bijak serta tegas yang membabat segala kemaksiatan. Sumber segala suasana dan keadaan mencekam, penuh getir dan tak maju-maju.
Dan dalam pada itu, Paslon saingan, bakal ‘dibuntuti, diamat-amati dan digali-gali (lagi)’ segala cemar dan amburadul kehidupannya di segala lini. Katanya, itu hal yang biasa. Di jelang dan seputar saat-saat pilih pemimpin, tidak kah ‘yang bukan usungan kita biasanya dikuliti abis-abisan segala kekurangan, kelemahan dan ketidakhebatannya?’ Dan itu mesti dipompa dalam percakapan-percakapan liar atau pun terbatas; yang mesti digencarkan dan disebarkan pula lewat media komunikasi?
Namun ada hal lain pula…
Bagaimana pun, Centrum Pemenangan Paslon tentu punya ‘mata terang politik’ yang qualified. Bukan tak mungkin bahwa Tim Sukses pun mesti diendus segala pergerakannya. Anggota Timses beraura ‘bintang gemini’ berwajah kembar bermuka dua. ‘Muka depan plus muka belakang’ bukanlah sesuatu yang mustahil. “Main di dua kaki” bukanlah narasi kemarin sore. Ini adalah satu kelumrahan.
Toh Pesta Demokrasi bisa juga menjadi kesempatan di mana Politik segera jadi ‘ladang bisnis’ mengais rejeki. Orang (anggota tertentu dari Timses) bisa bersinar mentari di siang hari di Paslon tertentu. Namun segera menjadi cahaya rembulan di malam hari bagi Paslon lainnya. Konvoi sepeda motor bisa ramaikan jalanan di hari ini demi Paslon tertentu, namun di hari-hari berikutnya sepeda motor dan pengendara yang sama tanpa beban ramaikan pawai Paslon-Paslon lainnya. Namanya, dukungan dari gelanggang ke gelanggang. Ramai, bukan?







