Ketika Pesta Demokrasi Itu Semakin Mendekat

IMG 20240929 064518

Namun, mari tengok di akar rumput. Jelas, Pesta Demokrasi adalah perhelatan politik massa. Warga negara seturut hak politiknya dipanggil untuk menentukan nasibnya melalui Paslon Leadership untuk ‘melayani res publik, hal-hal yang bersifat umum.’ Bagaimana pun, banyak Paslon dengan variasi background sepertinya berpengaruh ketat pada konstituen (pemilih).

Beda Paslon dan beda konstituen pemilih bukanlah hal yang haram. Inilah alam dan kisah politik yang lumrah. Setiap lima tahunan, massa setidaknya telah ‘belajar dan rasa terbiasa’ dalam alam beda pilihan itu. Di waktu-waktu silam, saat awal Pilkada, Pilwalkot dan Pilgub libatkan massa secara langsung, suasana tegang antar pendukung Paslon nyata tak terelakan. Sengit memang di kisah-kisah penuh ketegangan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketegangan relasi antar tetangga, antra kelompok, dan bahkan di dalam keluarga (besar) sendiri terasa genting. ‘Saling sindir baku ambil kata’ lumrah terjadi. Yang tak sejiwa dalam pilihan harus alami varian tekanan dan disudutkan. ‘Yang dulu-dulunya akrab urat cocok, sayangnya gara-gara beda pilihan, terpaksa saling menjauh bahkan bermusuhan.’

Namun kini…

Atmosfer jelang Pesta Demokrasi, bisa jadi tak segarang yang kemarin-kemarin itu. Ini bukan hanya karena massa sudah pada cerdas politik. Tapi juga bahwa publik tak mau tercecer dalam relasi yang retak hingga bisa-bisa berantakan.

Dalam tangkapan seadanya, terekam suara-suara ‘bijak yang lucu plus kocak juga.’ Kira-kira isi kasarnya begini, “Kita ini tegang penuh serius. Semakin kurang bertegur sapa. Tak lagi umbar senyum lebar saat bersua muka. Kita sudah makin jarang bahkan tidak lagi baku pigi datang. Pesta rakyat ini benar-benar menjarakkan kita. Semuanya jadi begini hanya karena kita terlalu fanatik pada satu pasangan punya kita masing-masing. Jika sekiranya pasangan pilihanku, junjungan kita terpilih, syukurlah kalau setelah duduk di kursi dan berhadapan dengan meja jabatan, berdua itu masih ingat-ingat dan mau lihat (nasib) kita, pendukungnya ini.”

Pos terkait