Mengapa Melki  Laka Lena?

tony kleden2

Usai acara bedah buku itu, saya mendekati  Melki. Kami bincang-bincang sekenanya.  “Kaka, ayo masuk Golkar. Sama-sama di Golkar,” ajaknya.

Kepadanya saya mengatakan,  di dompet saya ada KTA dari salah satu partai besar.  “Oh,  bagus tuh  kaka…  Terjun di politik sudah,” katanya meyakinkan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dari interaksi singkat itu saya menangkap aura positif dari anak muda ini. Sosok ini orang baik. Rendah hati.  Kapasitasnya mumpuni. Kompetensi mantap. Attitude-nya oke.  Karakternya kuat.  Dan, punya vocation urus orang banyak.

Kiprahnya sebagai anggota DPR RI, bahkan duduk sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI  saat ini, membuktikan vocation itu.  Dalam catatan saya,  Melki adalah anggota  DPR RI dari NTT yang paling sering, paling intens, paling banyak, paling lama berada  di tengah dan membaur dengan  masyarakat melalui kunjungan-kunjungannya.   Hampir tiap akhir pekan Melki ada di daratan Timor, Sumba, Rote dan Sabu.

Semangat mudanya,  empati dan simpatinya yang luar biasa dengan masyarakat di desa dan dusun merupakan cara Melki mengejawantahkan praksis berpartai. Di tangannya, Golkar NTT  tampil sangat  beda.  Dengan memegang jabatan sebagai Ketua  Golkar NTT, Melki  sejatinya ingin menegaskan bahwa bagi Golkar politik  sejatinya bukan hanya soal kontestasi dan kekuasaan. Bagi Golkar, politik mesti mewujud dalam  keseharian hidup dan hidup  sehari-hari.

Caranya memimpin Golkar NTT dan  gayanya menggerakkan mesin partai beringin ini seperti juga menegaskan apa yang dikatakan Adrian Leftwich dalam bukunya What Is Politic? The Activity and its Study (2004), bahwa politik adalah induk dari semua aktivitas kolektif, baik publik maupun privat, formal atau informal yang terjadi di semua lapisan, kelompok dan lembaga masyarakat.

Pos terkait