Usai acara bedah buku itu, saya mendekati Melki. Kami bincang-bincang sekenanya. “Kaka, ayo masuk Golkar. Sama-sama di Golkar,” ajaknya.
Kepadanya saya mengatakan, di dompet saya ada KTA dari salah satu partai besar. “Oh, bagus tuh kaka… Terjun di politik sudah,” katanya meyakinkan.
Dari interaksi singkat itu saya menangkap aura positif dari anak muda ini. Sosok ini orang baik. Rendah hati. Kapasitasnya mumpuni. Kompetensi mantap. Attitude-nya oke. Karakternya kuat. Dan, punya vocation urus orang banyak.
Kiprahnya sebagai anggota DPR RI, bahkan duduk sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI saat ini, membuktikan vocation itu. Dalam catatan saya, Melki adalah anggota DPR RI dari NTT yang paling sering, paling intens, paling banyak, paling lama berada di tengah dan membaur dengan masyarakat melalui kunjungan-kunjungannya. Hampir tiap akhir pekan Melki ada di daratan Timor, Sumba, Rote dan Sabu.
Semangat mudanya, empati dan simpatinya yang luar biasa dengan masyarakat di desa dan dusun merupakan cara Melki mengejawantahkan praksis berpartai. Di tangannya, Golkar NTT tampil sangat beda. Dengan memegang jabatan sebagai Ketua Golkar NTT, Melki sejatinya ingin menegaskan bahwa bagi Golkar politik sejatinya bukan hanya soal kontestasi dan kekuasaan. Bagi Golkar, politik mesti mewujud dalam keseharian hidup dan hidup sehari-hari.
Caranya memimpin Golkar NTT dan gayanya menggerakkan mesin partai beringin ini seperti juga menegaskan apa yang dikatakan Adrian Leftwich dalam bukunya What Is Politic? The Activity and its Study (2004), bahwa politik adalah induk dari semua aktivitas kolektif, baik publik maupun privat, formal atau informal yang terjadi di semua lapisan, kelompok dan lembaga masyarakat.







