Meski sudah diputuskan dan didorong maju, Melki bukan tipe politisi yang haus kekuasaan. Dia menjadikan politik itu sebagai medan bakti. Itu sebabnya, dia menempuh jalan beradab, jalan benar mempertahankan kursi di periode keduanya di DPR RI. Dia tidak menggunakan cara kotor di jalan gelap semata mempertahankan kursinya. Dia tetap rendah hati, tidak pongah, juga tidak memposisikan diri sebagai superman yang ‘omnipoten’ (mahakuasa).
Bagi Melki, jabatan politik, entah itu sebagai anggota DPR, bupati/walikota atau gubernur, itu adalah vocation, panggilan. Panggilan untuk apa? Untuk melayani masyarakat. Banyak orang memangku jabatan penting, tetapi miskin panggilan. Banyak orang duduk di kursi kekuasaan, tetapi hanya sibuk mengkalkulasi fee proyek-proyek. Banyak orang memegang palu pemimpin, tetapi lupa diri dan menggunakan palu itu mencederai rakyat yang memilihnya.
Kembali ke judul, mengapa Melki Laka Lena? Mengapa dia yang sebaiknya pimpin NTT? Alasan pertama sudah jelas di atas. Anak muda ini punya performans yang baik. Kiprah, kerja dan perjuangannya sebagai anggota DPR RI bagi masyarakat NTT juga jelas terlihat. Karakternya kuat, attitude-nya baik.
Alasan kedua, dia pimpin partai besar bernama Golkar. Di NTT dia Ketua DPD I Golkar NTT. Saat ini dia menjabat Wakil Ketua Komisi IX DPR RI rasa ketua. Jika menggunakan kekuatan dan jalur Koalisi Indonesia Maju (KIM), maka Melki punya posisi dan bargaining sangat kuat jika menjadi Gubernur NTT. Posisi dan bargaining kuat ini sangat dibutuhkan untuk mengeksekusi program-program pembangunan ke NTT. Program-program dan proyek-proyek pemerintah pusat dapat dengan mudah masuk ke NTT jika dan hanya jika gubernur punya relasi kuat, jaringan luas dan partainya ada di lingkaran kekuasaan.







