HUT Saat Pandemi
Mengutip derap sejarahnya, Golkar yang awalnya bernama Sekretariat Bersama atau Sekber Golkar, resmi didirikan di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 1964. Kelahirannya atas prakarsa golongan militer terutama kalangan perwira Angkatan Darat (AD). Agenda perjuangan utama pada awalnya adalah memerangi rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ketika itu terasa semakin menggerogoti stabilitas politik di Tanah Air. Lalu seiring visi-misinya, Golkar sejak awal pula didesain menjadi “rumah bersama” bagi segenap bangsa, di bawah naungan NKRI yang berasaskan Pancasila dan UUD 45 (Frans Sarong, dalam buku: Jejak Karya Golkar NTT, 2018).
HUT Golkar kali ini persis di tengah pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan masih terus mengganas. Momentum HUT tetap dirayakan, namun tentu saja dalam kemasan berbeda dibanding momentum serupa tahun tahun sebelumnya. Kali ini – sebagaimana disampaikan Ketua Panitia HUT Golkar NTT, FX Alain Niti Susanto – kegiatannya dipastikan tanpa gemuruh massa. Wujudnya lebih dalam kemasan senyap, seperti antara lain: berbagai perlombaan yang ditampilkan secara virtual, lomba karya tulis, kunjungan kalangan pengurusnya dalam jumlah terbatas ke panti asuhan, Taman Makam Pahlawan atau makam para penjasa Golkar. Berbagai kegiatan itu selain memaknai momentum HUT Golkar, juga sekaligus mencontohi bagaimana seharusnya menaati protokol kesehatan di tengah pandemi.
Menangkap momentum HUT ke 56 Golkar, tak ada salahnya mencermati derap langkah partai ini, khususnya selama kepemimpinan Airlangga Hartato sebagai ketua umum atau ketumnya sejak hampir tiga tahun lalu. Melalui forum munas luar biasa (Munaslub) yang berlangsungsung di Jakarta, 19 – 20 Desember 2017, Airlangga Hartarto yang juga akrab disapa AH terpilih menjadi Ketum DPP Golkar untuk jangka waktu dua tahun, atau hingga Desember 2019. Munaslub itu digelar untuk menggantikan ketum terdahulu, Setya Novanto, yang terjerat kasus korupsi KTP – elektronik.





