Partai Golkar, Pancasila, dan Demokratisasi

GOLKAR3 6

Historisitas dan Kiprah Lintas Waktu

Secara historis, Golkar bermula dari Sekretaris Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) yang dibentuk pada 20 Oktober 1964, menjelang berakhirnya pemerintahan Soekarno. Ketika itu, Sekber Golkar dibentuk dengan tujuan untuk mengimbangi hegemoni Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia (Leo Suryadinata, 1992: 13). Dalam perkembangan selanjutnya, Golkar tidak hanya berkontribusi dalam suksesi transisi kepemimpinan politik, tetapi juga turut berperan dalam membentuk serta mendorong pertumbuhan iklim politik tanah air yang semakin kuat.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Fakta yang mengejutkan dari sejarah Golkar adalah prestasi partai ini dalam beradaptasi dengan setiap perubahan politik, sehingga Golkar tidak hanya eksis pada Orde Lama dan Orde Baru, tetapi juga di era Reformasi. Bahkan ketika sejumlah elit politik tanah air mengupayakan berakhirnya masa hidup Golkar, ia justru tetap exist dan terlibat secara aktif di dalam politik era Reformasi.

Kenyataan ini menimbulkan perdebatan publik. Oposisi politik mulai mencari-cari sebab musabab bertahannya Partai Golkar di tengah tensi politik yang kian memanas. Namun, di tengah hempasan turbulensi politik yang dahsyat itu, Golkar tetap bertahan dan bahkan hadir ke tengah publik dengan jiwa yang lebih kreatif, militan, progresif, dan transformatif. Kebangkitan Golkar ini tidak hanya memantik para ahli politik untuk melakukukan kajian dan analisis khusus tentang Golkar, tetapi juga menjadi inspirasi dan mendorong partai lainnya untuk belajar dari Golkar dalam mengolah krisis yang berpotensi membahayakan masa depan partai. Realitas ini dengan sangat apik dibeberkan oleh Akbar Tandjung, salah satu tokoh besar Golkar, dalam buku berjudul The Golkar Way, sebuah buku yang bermula dari tesis doktoral Akbar Tandjung di Universitas Gadjah Mada.

Pos terkait