Partai Golkar, Pancasila, dan Demokratisasi

GOLKAR3 6

Betapa pun demikian, secara realis-politis, dalam beberapa tahun terakhir, partai-partai politik di Indonesia mengalami kehilangan kepercayaan rakyat. Hal ini diakibatkan oleh budaya oportunis-pragmatis dari partai politik yang seringkali hanya berusaha memantapkan ideologi partikularnya dan mengabaikan peran pentingnya terhadap penguatan Pancasila.

Hal ini semakin keruh ketika para pebisnis elitis mulai merangsek masuk dan menghegemoni parpol melalui kekuatan modal. Selain lalai dalam menguatkan ideologi Pancasila, parpol juga dinilai publik tidak serius dalam mendukung demokratisasi. Hal ini berdampak pada berkurangnya kepercayaan publik terhadap parpol. Hasil survei Indobarometer pada tahun 2017 mengatakan bahwa sebanyak 62,9% masyarakat merasa tidak akrab dengan partai politik.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Menurunnya tingkat kredibilitas partai politik di mata masyarakat juga diafirmasi oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang melakukan survei pada tahun 2016. Menurut kedua lembaga survei ini, menurunnya tingkat kredibilitas parpol berimplikasi pada menurunnya tingkat kredibilitas DPR (tempo.co, 23/3/2017).

Implikasi logis ini dibuktikan melalui survei Indikator Politik Indonesia yang menempatkan DPR dan Parpol sebagai dua lembaga dengan tingkat kredibilitas terendah (tempo,co. 14/8/2016). Fakta miris lainnya diungkapkan melalui hasil survei Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengatakan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap demokrasi semakin besar, tetapi kepercayaan publik terhadap partai politik justru melorot (cnnindonesia.com, 20/7/2018).

Pos terkait